Karena itu, dia menegaskan bahwa penentuan target inflasi di kisaran 2,5 plus minus 1 persen memang by design untuk menjaga daya beli masyarakat.
“Coba kalau BBM (Bahan Bakar Minyak) kemarin tiba-tiba dinaikkan semua, pasti kenanya adalah di masyarakat menengah ke bawah; inflasinya akan naik, harga pangan naik. Tapi at the same time kita bisa menjaga fiskal karena apa? Karena kita coba melakukan efisiensi-efisiensi di pengeluaran-pengeluaran yang lain,” kata Juda Agung.
“Jadi memang kita mencoba untuk melakukan keseimbangan antara kita menjaga daya beli, menjaga growth dengan menjaga keseimbangan fiskal,” ucap Wamenkeu.