"Kita jangan perang harga, jangan bermain di komoditas, kita bermain di kreatif, kenapa tidak? Tinggal bagaimana mengomunikasikan dengan pasar di Tiongkok yang secara bahasa dan budaya beda," tambah Irene.
Namun Irene juga mengingatkan agar pelaku industri kreatif dapat melihat China sebagai contoh dalam inovasi dan teknologi.
"Meski kalau bicara soal akar budaya, Indonesia juga punya keunggulan misalnya mereka suplai kain ke Indonesia tapi di tangan orang Indonesia, itu bisa didesain dengan sedemikian rupa, sehingga margin-nya itu bisa beratus-ratus persen," ungkap Irene.
Irene mengungkapkan, target dari Kementerian Ekonomi Kreatif dapat menyumbangkan 8 persen dari total Pendapatan Domestik Bruto (PDB) Indonesia pada 2026.
"Saat ini kami sudah sampai 7,6 atau 7,8 persen, sebentar lagi sudah mau sampai target, tapi menurut saya sudah melebihi, karena kita belum menghitung yang namanya 'digital assets' misalnya games seperti 'My Lovely Daughter' yang sudah masuk ke China," tambah Irene.
"My Lovely Daughter" adalah gim simulasi horor psikologis buatan pengembang Indonesia, GameChanger Studio, yang berkantor di Tangerang. Gim ini pertama kali diluncurkan pada 2018 dan kemudian juga dipasarkan di China dengan nama 我的可爱女儿 (Wǒ de Kě'ài Nǚ'ér), yang berarti "Putriku yang Tersayang".
"Padahal sebelumnya lebih banyak gim Indonesia ke pasar Amerika Serikat, jadi kami di Bekraf pertama, membantu menerjemahkan ke bahasa yang digunakan pasar dan kedua membuka pasar untuk memberikan pentas bagi anak-anak bangsa, bukan hanya di nasional tapi juga level internasional," jelas Irene.
Sedangkan Duta Besar RI untuk Tiongkok dan Mongolia Djauhari Oratmangun dalam sambutannya mengatakan Kementerian Luar Negeri mendukung pelaku ekonomi kreatif dengan cara membawa diplomasi berdampak nyata sampai ke meja makan.