Anis Matta memandang, pasca-runtuhnya Uni Soviet pada 1991 dan bangkitnya kekuatan ekonomi China, seluruh negara sedang melakukan penyesuaian strategis (strategic adjustment). Oleh karena itu, dunia pendidikan Pasundan dituntut membekali generasi muda dengan literasi geopolitik agar Indonesia tidak tergilas menjadi penonton dalam turbulensi global.

"Kita hidup di era di mana inti dari semua pergerakan geopolitik pada dasarnya adalah perang kognitif, perang otak. Siapa yang bisa survive di sini ditentukan oleh orang-orang yang berpikir lebih canggih daripada lainnya. Paguyuban harus menciptakan otak politik dan ekonomi untuk masa yang akan datang," ujar Anis.

Anis meyakini, dengan memanfaatkan keunggulan posisi geografis strategis serta kedekatan diplomasi dengan dunia Islam termasuk konsistensi pengawalan isu Palestina, Indonesia memiliki porsi besar untuk memimpin jika didukung oleh sumber daya manusia yang mumpuni.