Selain regenerasi, industri batik menghadapi tantangan dari perkembangan kain bermotif batik yang diproduksi melalui teknik cetak atau printing.
Kemajuan teknologi membuat produk tersebut memiliki kualitas semakin baik dan harga lebih terjangkau, sehingga masyarakat dapat kesulitan membedakannya dengan batik yang dibuat melalui proses tradisional.
Oleh karena itu, Faisol menekankan pentingnya edukasi kepada masyarakat mengenai perbedaan batik berdasarkan proses pembuatan, keterampilan tangan, serta nilai filosofis yang terkandung di dalamnya.
“Sudah saatnya kita memastikan agar batik tidak hanya dikenal sekadar dari motifnya, melainkan dihargai dari proses, keterampilan tangan, serta nilai budaya luhur yang menyertainya,” tegas Wamenperin.
Kementerian Perindustrian juga mendorong diversifikasi produk untuk memperkuat industri batik. Pelaku IKM batik dapat mengembangkan produk jadi mulai dari fesyen siap pakai (ready-to-wear), aksesori, hingga produk kriya yang sesuai dengan gaya hidup modern.