Faisol menilai kolaborasi IKM batik dengan desainer dan akademisi penting untuk meningkatkan kemampuan pelaku usaha dalam menciptakan produk yang lebih beragam tanpa kehilangan identitas batik.
Selain diversifikasi, standardisasi menjadi perhatian dalam pengembangan industri batik. Salah satu instrumen yang dapat dimanfaatkan adalah Batikmark yang antara lain berkaitan dengan mutu fisik dan ketahanan warna produk batik, sehingga membantu konsumen mengenali karakteristik produk yang memenuhi ketentuan mutu.
Dalam rangkaian Puncak Pameran HBN 2026, Kemenperin menyelenggarakan berbagai kegiatan pada 30 September–4 Oktober 2026 di Atrium Plaza Tunjungan 3, Kota Surabaya, seperti kuliah umum, talkshow, workshop, dan penyerahan Batikmark kepada IKM. Pameran tersebut melibatkan lebih dari 40 peserta.
Faisol menekankan pengembangan industri batik membutuhkan kolaborasi pemerintah pusat dan daerah, asosiasi, pelaku industri, akademisi, komunitas, perbankan, serta media untuk membangun ekosistem yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing.
“Keberhasilan dalam membangun ekosistem industri batik yang tangguh, mandiri, dan berdaya saing tinggi hanya dapat diwujudkan melalui kolaborasi erat antar pemangku kepentingan,” tuturnya.