Agus Jabo meminta seluruh pendamping tidak terburu-buru menghakimi perilaku siswa hanya dari kacamata aturan formal. Setiap riwayat perilaku anak wajib ditelaah secara mendalam sesuai akar masalah dan kebutuhannya.
"Kalau menggunakan logika formal, kebutuhan mereka akan terasa berat. Tetapi kalau kita menggunakan hati, kita bisa memahami mereka membutuhkan perhatian, pendampingan, dan kasih sayang," ujarnya.
Selain itu, ketulusan hati pendidik akan langsung dirasakan oleh peserta didik melalui interaksi harian mereka.
Baiq Windra Ishanda selaku perwakilan dari Sekolah Rakyat Menengah Atas (SRMA) 38 Lombok Timur membenarkan esensi dari pembekalan tersebut. Pelatihan ini sukses menyadarkan pentingnya kehadiran sosok pengasuh sebagai teladan nyata bagi siswa.
"Setelah mengikuti pelatihan, saya semakin memahami menjadi wali asuh dan wali asrama bukan hanya sebagai pendamping. Kami hadir sebagai ibu dan bapak bagi anak-anak, menjadi rumah kedua bagi mereka," ujar Baiq.
Ia mengatakan kehangatan layaknya sebuah keluarga utuh memang menjadi kunci keberhasilan adaptasi anak di lingkungan asrama.
"Pelatihan ini mengajarkan keteguhan, kesadaran, dan kedisiplinan dari diri sendiri agar bisa kami implementasikan di Sekolah Rakyat masing-masing," katanya.