Ia berharap penerapan PM-AAS mampu meningkatkan produktivitas padi hingga minimal 10 ton per hektare, bahkan diharapkan bisa mencapai 11 ton per hektare atau dua kali lipat dibandingkan pola pertanian reguler.

Ia mengakui salah satu tantangan yang perlu diantisipasi dalam penerapan metode tersebut adalah serangan hama tikus. Untuk mengatasinya, diperlukan kerja sama antara petani, petugas Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan (POPT), dinas terkait, serta pemerintah daerah.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Grobogan turut mendukung perluasan penerapan PM-AAS melalui penyelenggaraan Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman Terpadu (SL-PTT) khusus PM-AAS yang dilaksanakan di sembilan kecamatan.

Melalui program tersebut, petani yang telah mendapatkan pengetahuan dan pengalaman dalam menerapkan metode pertanian modern diharapkan dapat membagikannya kepada kelompok tani lainnya.