NADIKABAR.COM β Wakil Menteri Pertanian Muhammad Saleh Mustafa menegaskan hilirisasi pertanian menjadi kunci meningkatkan nilai tambah komoditas, memperkuat daya saing produk, serta mendorong kesejahteraan petani melalui pengolahan hasil produksi.
βHilirisasi ini penting agar petani ke depan semakin sejahtera,β kata Wamentan Saleh saat dalam 3rd International Conference on Agricultural, Nutraceutical and Food Science (ICANFS) di Universitas Tidar, Magelang, sebagaimana terkonfirmasi di Jakarta, Senin.
Selain penguatan produksi, Wamentan menegaskan hilirisasi penting agar komoditas pertanian Indonesia tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi diolah menjadi produk bernilai tambah dan berdaya saing di pasar global.
Ia mencontohkan kopi yang dapat memberikan nilai ekonomi lebih tinggi melalui pengolahan, pengemasan, dan pengembangan merek.
Menurutnya keberhasilan pembangunan pertanian tidak cukup diukur dari angka produksi dan pendapatan, tetapi juga harus tercermin dalam kesejahteraan petani, termasuk akses terhadap pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur dasar.
Dia menekankan tiga kunci keberlanjutan sistem pertanian dan pangan, yaitu ketersediaan sumber daya, tata kelola dan regulasi yang baik, serta penciptaan nilai tambah bagi masyarakat.
Sebelumnya, Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengusulkan tambahan anggaran Rp5 triliun untuk memperkuat sektor perkebunan strategis pada 2027 guna mendukung pasokan industri, kesejahteraan petani, serta daya saing ekspor.
"Kementerian Pertanian, pada 18 Agustus 2026 telah bersurat ke Menteri Keuangan terkait usulan anggaran belanja tambahan Rp5 triliun, difokuskan untuk pengembangan komoditas strategis perkebunan," kata Mentan dalam Rapat Kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta, Selasa (1/9).
Dana tambahan itu diarahkan untuk pengembangan kelapa, lada, pala, tebu, kopi, kakao, dan jambu mete, termasuk penyediaan 1.250 unit traktor bagi penguatan produksi komoditas tebu.
Adapun rancangan program prioritas Kementerian Pertanian tahun 2027 dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan di antaranya adalah menyediakan infrastruktur lahan dan air, penyediaan benih dan bibit berkualitas, dukungan sarana dan prasarana produksi pertanian, hilirisasi pertanian, modernisasi pertanian, serta penyuluhan dan regenerasi petani.
Kementerian Pertanian menargetkan produksi komoditas Program Kerja Prioritas Nasional (PKPN) di 2027 meliputi beras 34 juta ton, jagung 18 juta ton, kedelai 392 ribu ton, ubi kayu 17,79 juta ton, kelapa sawit 245 juta ton, tebu 42 juta ton, kopi 791 ribu ton,
Kemudian kelapa 2,9 juta ton, kakao 633 ribu ton, pala 41 ribu ton, lada 64 ribu ton, susu 922 ribu ton, telur 8,08 juta ton, daging 5 juta ton, bawang merah 2 juta ton, bawang putih 40 ribu ton, dan cabai 3,13 juta ton.
Berdasarkan surat bersama Menteri PPN/Kepala Bappenas dan Menteri Keuangan tertanggal 5 Agustus 2026 perihal Pagu Anggaran Belanja Kementerian/Lembaga dan Dana Alokasi Khusus Tahun Anggaran 2027, Pagu Anggaran Kementerian Pertanian ditetapkan sebesar Rp23,23 triliun menjadi Rp28,02 triliun.