NadiKabar berkesempatan menyicip keripik kulit dan basreng durian produksi setempat. Rasanya asin gurih hampir menyerupai kerupuk rambak. Hanya saja teksturnya lebih tebal. Tidak ada aroma durian tercium sama sekali.
Keripik kulit durian itu dikemas dan dijual dengan harga Rp 15 ribu per toples berisi 250 gram. Tak hanya kulit, biji durian pun tak luput dari pengolahan. Di bawah pengelolaan Kelompok Wanita Tani (KWT), biji durian diolah menjadi basreng.
"Jadi durian itu kalau di kami ada grade A, grade B, grade C. Grade C yang hanya beraroma itu kami buat menjadi dodol durian," ujarnya.
Basreng biji durian dijual sekitar Rp 20 ribu. Sementara dodol durian dipasarkan dengan harga sekitar Rp 85 ribu per kilogram.
Dengan berbagai inovasi tersebut, mereka berupaya mengubah anggapan durian hanya menghasilkan buah yang bisa dimakan. Bagian yang selama ini dianggap sampah pun ternyata dapat memiliki nilai ekonomi.
Pengolahan limbah durian di Alasmalang tidak berhenti pada produk makanan. Kulit durian berukuran besar juga diolah menjadi serat yang kemudian dimanfaatkan sebagai bahan isian bantal dan boneka.
Ada pula produk oil absorbent atau bahan penyerap minyak. Produk tersebut dibuat dari serat kulit durian yang memiliki kemampuan menyerap cairan.
"Yang ini oil absorbent untuk lap minyak. Dari kulit durian, yang serat-serat ini. Jadi lebih meresap," kata Roniyah.
Produk lain yang dibuat adalah gantungan kunci. Serat kulit durian dicampur dengan dakron agar hasilnya lebih empuk.
Satu gantungan kunci dijual Rp 10 ribu. Modal pembuatannya sekitar Rp 7 ribu sehingga terdapat selisih Rp 3 ribu yang saat ini belum dibagikan kepada anggota kelompok.
"Masih kolektif, masih menjadi sebuah tabungan dulu. Belum kami bagi-bagi secara pribadi," ujarnya.