Setidaknya ada sekitar 10 orang yang terlibat dalam proses pengolahan dan pembuatan produk tersebut. Pembagian pekerjaan juga melibatkan laki-laki dan perempuan.
Proses mengubah kulit durian menjadi serat membutuhkan tenaga lebih besar sehingga ditangani oleh bapak-bapak dari karang taruna. Sementara proses menjahit dan finishing produk dilakukan oleh ibu-ibu.
Untuk membuat produk dari kulit durian, tahapan yang paling lama adalah pengeringan. Saat cuaca panas, proses tersebut membutuhkan waktu sekitar tiga hari.
"Yang lamanya proses pengeringannya, butuh tiga harian," katanya.
Setelah menjadi serat, bahan kemudian ditimbang, dicampur sesuai kebutuhan, dibentuk mengikuti motif, lalu dijahit secara manual hingga menjadi produk jadi.
Perubahan paling terasa bukan hanya pada produk yang dihasilkan, tetapi juga cara masyarakat memperlakukan limbah durian. Pedagang yang berjualan durian kini disediakan ember untuk menampung kulit dan biji durian.
"Pertamina menyediakan ember untuk kulit. Jadi penjual-penjual kami kasih ember. Setelah itu terkumpul, diangkut. Kami dapat bantuan dari DLHK Jateng roda tiga untuk mengangkut, nanti dibawa ke sini terus digiling," jelas Roniyah.
Kulit durian yang sebelumnya menjadi persoalan lingkungan kini memiliki beberapa jalur pemanfaatan. Selain keripik dan kerajinan, kulit durian juga dapat diolah menjadi bahan oil absorbent hingga bahan tepung pemadam kebakaran.
Untuk produk tepung pemadam kebakaran, pemanfaatannya saat ini masih bersifat internal karena belum memiliki pasar luas.
Roniyah berharap inovasi tersebut terus berkembang sehingga Alasmalang bukan hanya dikenal sebagai sentra durian, tetapi juga sebagai kawasan yang mampu mengolah seluruh bagian buah tersebut.
"Jadinya sekarang durian itu tidak ada yang tidak bernilai ekonomis. Makanya kita punya tagline, 'Ke Alasmalang makan durian sampai kulitnya'," tuturnya.