"Pernah, pak lik saya sendiri pernah memelihara sapi. Ya sapinya dikasih makan banyak ya kurus-kurus aja. Dan dijual malah merugi, seperti itu. Jadi dia bercerita kepada saya sendiri juga bahwa enggak ada untungnya, rugi," cerita Mulato.
Warga Bagelen juga berpantang menanam kedelai hitam. Pantangan ini dilatari cerita tentang dua anak Nyai Bagelen, Roro Pitrah dan Roro Taker, meninggal akibat tertimbun tumpukan kedelai hitam pada hari Selasa Wage.
Cerita itu pula yang membuat warga setempat kini menghindari menggelar hajatan atau acara besar pada hari pasaran Wage karena dipercaya bisa mendatangkan kesialan.
"Biasanya kalau saya mendengar, masyarakat kalau ada hajatan di hari itu ya umek (kisruh). Urusannya itu kok enggak selesai-selesai, ruwet gitu. Malah pada padu dewe-dewe (bertengkar sendiri-sendiri) seperti itu, kemrungsung," kata dia.
Di sisi lain, Mulato menilai berbagai pantangan ini sebagai bentuk penghormatan sekaligus cara leluhur menjaga harmoni di masa lampau, mengingat sapi merupakan hewan yang disucikan dalam peradaban Hindu yang dulu mendominasi wilayah tersebut.