Sementara itu, pengamat sejarah sekaligus Pangarsa Kearsipan Kadipaten Pakualaman, Dr. Drs. Sudibyo, M.Hum, mengatakan Bagelen memiliki posisi strategis sejak masa Mataram Islam hingga pemerintahan kolonial sebagai wilayah penyangga pusat kekuasaan.

Pada masa Panembahan Senopati dan Sultan Agung, prajurit Bagelen dikenal sebagai pasukan yang loyal kepada raja. Bahkan ketika Keraton Mataram dikuasai Trunajaya, Pangeran Puger membangun istana pengungsian di Purwaganda yang kini berada di wilayah Kecamatan Purwodadi.

Menurut Sudibyo, kisah-kisah di desa Bagelen tersebut memuat nilai-nilai universal seperti keteguhan, kesetiaan, ketangguhan, dan kemandirian perempuan yang masih relevan hingga kini.

"Hanya saja, diperlukan interpretasi baru agar nilai-nilai dalam legenda tersebut tetap relevan bagi generasi masa kini," pungkasnya.

Artikel ini telah naik di NadiKabar.