NADIKABAR.COM — Warga Iran membakar poster raksasa yang menampilkan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dan Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu dalam aksi terbaru di Teheran. Pembakaran poster ini dilakukan setelah Trump dan Partai Republik kalah telak dalam pemilu sela AS yang digelar pada 3 November.

Di Alun-alun Enghelab yang terletak di pusat ibu kota Iran, seperti dilansir AFP, Jumat (6/11/2026), kerumunan orang berkumpul untuk menyaksikan pembakaran poster yang tidak hanya menampilkan Trump dan Netanyahu, tetapi juga Wakil Presiden AS JD Vance dan utusan khusus Trump untuk Timur Tengah, Steve Witkoff.

Perang yang berkecamuk di Timur Tengah dimulai oleh Trump dan Netanyahu, yang melancarkan gelombang serangan mendadak berskala besar terhadap Iran pada 28 Februari lalu. Serangan itu menewaskan pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei dan sejumlah tokoh penting Iran lainnya.

Dalam aksi di Alun-alun Enghelab, massa mengibarkan bendera merah sebagai tuntutan untuk membalas kematian Khamenei.

"Kami akan membunuh Trump," demikian bunyi slogan pada sejumlah bendera yang dikibarkan massa, sementara lagu berjudul "Kita Harus Bangkit", untuk mengenang Khamenei, diperdengarkan melalui pengeras suara di dekat lokasi aksi.

Sebelumnya, ribuan warga Iran mengejek Trump dalam unjuk rasa tahunan untuk memperingatkan peristiwa pengambilalihan Kedutaan Besar AS dan krisis penyanderaan yang terjadi pasca-revolusi Islam tahun 1979.

Aksi massa yang digelar pada Rabu (4/11) waktu setempat itu digelar menyusul kekalahan telak Partai Republik dalam pemilu sela AS, di mana Partai Demokrat berhasil merebut kendali Kongres.

Trump telah mengakui bahwa perang yang dikobarkan AS bersama Israel melawan Iran menjadi faktor kunci dalam kekalahan elektoral tersebut.

Sejak saat itu, para pejabat Iran melontarkan ejekan kepada Trump. Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Mohsen Rezaei, menyebutnya sebagai "kekalahan politik" Washington setelah Teheran "memberikan kekalahan strategis kepada Trump di medan perang dan di Selat Hormuz".