Upaya tersebut dilakukan di tengah kebutuhan Kota Bima memperkuat ketahanan terhadap risiko banjir dan menjaga kawasan pesisir. Pada November 2025, banjir bandang melanda Kecamatan Rasanae Barat dan Rasanae Timur yang berdampak terhadap 299 kepala keluarga atau 993 jiwa. Kelurahan yang terdampak antara lain Paruga, Dara, Kumbe, dan Lampe.

Pemerintah Kota Bima melakukan pengurangan risiko banjir melalui penanganan kawasan hulu hingga hilir, antara lain melalui National Urban Flood Resilience Project (NUFReP), yang mendukung pembangunan infrastruktur drainase primer perkotaan.

Selain itu, pemerintah membangun Kolam Retensi Amahami di kawasan hilir untuk menampung limpasan air sebelum dialirkan secara bertahap.

Upaya pengendalian banjir juga mencakup penanganan daerah aliran sungai (DAS) Padolo dan Melayu serta penyusunan rencana aksi DAS Rontu, untuk memperkuat koordinasi penanganan kawasan hulu dan hilir.

Feri mengatakan Pemerintah Kota Bima tidak boleh pasrah terhadap kondisi lingkungan, termasuk kawasan yang masih terlihat kering dan gersang.

"Kita tidak boleh pasrah menerima keadaan. Harus ada ikhtiar dan upaya nyata untuk menciptakan alam yang hijau, sejuk dan bermanfaat bagi kehidupan kita," katanya.