NADIKABAR.COM — Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya perlindungan lahan pertanian Bali di tengah derasnya arus investasi dan perkembangan pariwisata. Menurutnya, pembangunan Bali harus tetap menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian alam, keberlanjutan pertanian, serta kesejahteraan masyarakat.
Pernyataan tersebut disampaikan Koster saat menjadi keynote speaker dalam seminar bertajuk 'Sinergi Pemerintah Daerah, Kementerian ATR/BPN, Notaris dan PPAT untuk Memberikan Perlindungan terhadap Tanah Pertanian Bali di Tengah Arus Investasi serta Menjaga Pembangunan Bali Berkelanjutan' di Hongkong Garden Restaurant, Denpasar Timur, Minggu (20/9/2026).
Pulau Kecil, Tekanan Pembangunan Besar
Luas Bali tercatat sekitar 5.590 km², kurang dari 0,1 persen luas daratan Indonesia, dengan penduduk sekitar 4,4 juta jiwa. Wilayah ini terbagi dalam 57 kecamatan, 636 desa, dan 80 kelurahan.
Dengan wilayah yang relatif kecil, Bali menghadapi tekanan pembangunan yang semakin besar, khususnya dari sektor pariwisata dan investasi.
Pariwisata Bali Topang Devisa Nasional
Pada 2025, Bali menerima 7,05 juta wisatawan mancanegara, tertinggi dalam satu dekade terakhir, atau tumbuh 11,4 persen dibandingkan 2024. Ditambah wisatawan domestik sekitar 9,3 juta orang, total kunjungan wisatawan ke Bali pada 2025 mencapai 16,3 juta orang.
Devisa pariwisata Bali mencapai sekitar Rp 176 triliun, atau berkontribusi sekitar 55 persen terhadap total devisa pariwisata nasional yang disebut mencapai Rp 319,9 triliun.
Indikator Makro Ekonomi Bali Membaik
Koster memaparkan sejumlah indikator pembangunan Bali sepanjang 2025. Pertumbuhan ekonomi tercatat 5,82 persen, meningkat dari 5,48 persen pada 2024 dan berada di atas pertumbuhan nasional yang sebesar 5,11 persen.
PDRB per kapita Bali tercatat Rp72,66 juta, naik dari Rp67,32 juta pada 2024. Tingkat kemiskinan turun ke 3,42 persen dari 3,80 persen, disebut sebagai yang terendah secara nasional.
Tingkat Pengangguran Terbuka juga turun ke 1,45 persen dari 1,79 persen, sementara Indeks Pembangunan Manusia (IPM) Bali naik ke 79,37 dari 78,63 pada 2024. Prevalensi stunting Bali tercatat 8,7 persen, jauh di bawah angka nasional 21,5 persen.