NADIKABAR.COM — Lebih dari 180.000 orang di Yaman mengungsi di tengah eskalasi krisis yang berlangsung selama beberapa bulan terakhir, kata Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) di Jenewa, Selasa (29/9).
"Ini informasi yang kami terima, 180.000 orang dari 10 wilayah mengungsi," kata Direktur Kedaruratan Wilayah Mediterania Timur Dr. Annette Heinzelmann.
Menurutnya, situasi tersebut memperparah sistem kesehatan di Yaman.
Berdasarkan data Kementerian Kesehatan di Aden, sejak 6 Agustus tercatat total 4.481 korban, termasuk 830 lebih kematian.
Dua rumah sakit di Marib dan Ras Al-Arah menghentikan sementara layanan perawatan neonatal dan obstetri darurat karena staf dan kapasitas operasional dialihkan untuk menangani korban luka yang terus berdatangan, katanya.
Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) pada Senin menyebutkan bahwa jumlah pengungsi akibat konflik yang berlangsung sejak Juni tersebut telah mencapai 145.000 orang.
Berdasarkan data IOM, sebanyak 16.000 orang terpaksa meninggalkan rumah mereka selama sepekan terakhir.
Situasi di Yaman bergejolak pada pertengahan Juli setelah pasukan pro-pemerintah menyerang Bandar Udara Sanaa saat sebuah pesawat dari Iran yang membawa delegasi pemimpin Houthi sedang mendarat.
Kelompok Houthi menyalahkan Arab Saudi atas serangan itu, dan menyatakan perang terhadap Riyadh. Houthi juga bertekad akan terus melawan Saudi sampai blokade terhadap wilayah-wilayah yang mereka kuasai dicabut.
Baru-baru ini, Houthi bahkan telah mencapai kemajuan yang signifikan di wilayah barat daya dan barat Yaman, ditandai dengan kontrolnya atas pesisir Laut Merah dan permukiman dekat Selat Bab al-Mandab.
Penerjemah: Asri Mayang Sari