Untuk mencapai 15 juta perjalanan setahun, dibutuhkan sekitar 41.000 penumpang per hari. "Indonesia tidak dapat sekadar berharap pertumbuhan penumpang pada akhirnya menyelesaikan seluruh persoalan keuangan. Namun kita juga tidak seharusnya langsung menyimpulkan bahwa Whoosh adalah investasi yang gagal," kata John Flood.

Salah satu manfaat terpenting transportasi cepat adalah terciptanya perjalanan baru. Ketika sebuah perjalanan menjadi lebih mudah, orang tidak hanya berpindah dari mobil atau bus. Mereka melakukan perjalanan yang sebelumnya tidak terpikirkan.

Warga Jakarta bisa memutuskan berakhir pekan di Bandung. Perusahaan dapat menggelar rapat manajemen di Jawa Barat. Wisatawan internasional yang menginap di Jakarta dapat menambahkan Bandung ke rencana perjalanan mereka.

Di titik inilah manfaat ekonomi yang lebih luas mulai tercipta. Bagi industri perhotelan, peluang ini datang bersama risiko. Bandung telah menjadi salah satu destinasi domestik terkuat di Indonesia dengan kekuatan kuliner, belanja, industri kreatif, dan alam.

Konektivitas yang lebih cepat membuka akses lebih mudah ke salah satu pasar perkotaan terbesar di Asia Tenggara.

Namun perjalanan yang lebih cepat juga dapat mengubah kunjungan menginap menjadi perjalanan satu hari. Lebih banyak pengunjung tidak otomatis berarti lebih banyak malam kamar hotel.

Hotel dan pelaku pariwisata harus menciptakan alasan agar wisatawan tinggal lebih lama dan membelanjakan lebih banyak melalui paket kereta dan hotel, wisata kuliner, konser, pernikahan, kebugaran, hingga paket rapat perusahaan.

Persoalan lain ada pada koneksi terakhir. Meski disebut kereta cepat Jakarta-Bandung, jalurnya tidak membawa setiap penumpang langsung ke pusat Kota Bandung. Banyak penumpang berpindah di Padalarang ke kereta pengumpan, sebagian lain melanjutkan lewat jalan raya dari Tegalluar.