Bagi Widyasih, medali perunggu sebagai medali pertama untuk Kontingen Indonesia yang diraihnya adalah sebuah penebusan atas janji kepada mendiang sang ibu yang meninggal pada 2024 lalu, tepatnya dua minggu menjelang Olimpiade Paris.

"Saat (ibu saya meninggal) itu, mental saya sangat hancur dan saya gagal mewujudkan mimpi ibu melihat saya hattrick medali di Paralimpiade," katanya.

Lebih lanjut, Widiasih mengaku bersyukur di tengah persaingan level Asia yang semakin ketat dengan munculnya atlet-atlet baru, ia masih tetap menjaga performanya untuk berprestasi.