Untuk memulihkan kondisi emosionalnya dan menerima keadaan, Wina bahkan sempat berkonsultasi ke psikolog. Menurut dia, proses rekonsiliasi dengan batin sendiri jauh lebih rumit daripada menghadapi respons sang anak.
"Saya ke psikolog untuk berdamai dengan diri sendiri. Jauh lebih susah berdamai dengan diri sendiri dibanding dengan anak, karena anak punya dunianya sendiri dan dia tidak sadar kalau berbeda," ucapnya.
Kendati demikian, Wina segera menyadari bahwa larut dalam rasa bersalah dan penyangkalan yang berkepanjangan justru akan merugikan tumbuh kembang buah hatinya.
Jika orang tua terus terpuruk, kata dia, anak berisiko tidak tertangani dan kehilangan masa emas untuk mendapatkan intervensi terapi sedini mungkin.
"Untungnya saya sadar. Kalau saya terlalu sedih, anak ini akhirnya tidak diapa-apakan dan kita kehilangan momen untuk membuat dia lebih baik. Dari situ saya bangkit," tutur Wina.