Saat ini, ada lebih dari 300 orang petani yang terdiri dari tujuh Gapoktan di Desa Doho yang memanfaatkan air dari embung tersebut untuk lahan pertaniannya karena aliran sungai setempat kering selama musim kemarau yang sudah berlangsung sejak Juni lalu.

Untuk itu, dia menilai pengembangan fasilitas kawasan yang menyelaraskan fungsi penyerapan air dan pemanfaatan potensi lingkungan dinilai menjadi modal penting mewujudkan pembangunan daerah yang berkelanjutan di tengah ketidakpastian iklim saat ini.

Kawasan Embung Doho juga dinilai berhasil meningkatkan efisiensi sistem pemompaan air pertanian sekaligus menekan emisi karbon lingkungan setempat dengan pemanfaatan instalasi energi terbarukan berbasis panel surya.

Pengembangan sistem energi bersih ini menggunakan empat unit panel surya modern berdaya 585 Watt peak per unit, sehingga menghasilkan total kapasitas puncak sebesar 2.340 Watt peak yang berproduksi optimal pada pukul 10.00 hingga 14.00 WIB.