"Manusia harus tetap memegang kendali atas teknologi AI berpegang pada prinsip yang berpusat pada manusia dan mengarah pada kebaikan, serta menjadikan AI sebagai sarana untuk melayani kemajuan umat manusia," kata dia.

Presiden Xi menegaskan bahwa membangun hubungan China-AS yang konstruktif dan memiliki stabilitas strategis bukanlah langkah yang bersifat sementara atau sekadar demi kepentingan sesaat, tidak dapat terwujud dalam semalam.

"Seluruh instansi, bidang, dan tingkatan dari kedua belah pihak harus mengambil tindakan nyata. Melakukan hal baik, betapapun kecilnya, adalah tindakan yang selalu benar, sedangkan melakukan hal buruk, betapapun kecilnya, adalah tindakan yang selalu salah. Kedua belah pihak perlu berupaya secara gigih untuk mewujudkan kesepahaman bersama yang telah dicapai," tambah Xi.

Keduanya juga berbicara mengenai berbagai persoalan besar internasional dan kawasan, termasuk krisis Ukraina dan Semenanjung Korea.

Kedua kepala negara menegaskan bahwa mereka akan saling mendukung dalam menyelenggarakan Pertemuan Informal Para Pemimpin Kerja Sama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC) dan KTT Para Pemimpin Kelompok Dua Puluh pada 2026.

Hadir juga dalam pertemuan tersebut Sekretaris Sekretariat Komite Sentral Partai Komunis China Cai Qi, Menteri Luar Negeri Wang Yi dan Wakil Perdana Menteri Dewan Negara He Lifeng.