“Saya menantikan kerja sama dengan semua negara demi mewujudkan sistem tata kelola global yang lebih adil dan setara serta melangkah menuju terwujudnya komunitas dengan masa depan bersama bagi umat manusia,” kata Xi, seraya menekankan pentingnya kesetaraan kedaulatan dan multilateralisme yang sejati.

“Dunia tanpa aturan ibarat persimpangan jalan tanpa lampu lalu lintas, yang hampir pasti akan menimbulkan kekacauan dan ketidaktertiban,” kata Xi dalam KTT BRICS 2026 di New Delhi, India.

Metafora tersebut menggambarkan pentingnya aturan dalam menjaga ketertiban internasional. Namun, selain keberadaan aturan, proses penyusunannya dan pihak-pihak yang terlibat juga menjadi persoalan penting dalam tata kelola global.

Aturan internasional harus disusun dan ditegakkan bersama oleh semua negara berdasarkan tujuan dan prinsip Piagam PBB, alih-alih didikte oleh pihak dengan otot terkuat atau suara paling lantang, demikian ditekankan Xi pada suatu kesempatan. SCO, platform tempat Xi mengusulkan GGI, menjadi salah satu contohnya. Dalam organisasi tersebut, Tiongkok telah mengumumkan pembentukan platform kerja sama di bidang energi, industri hijau, dan ekonomi digital, serta pusat inovasi ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan tinggi, serta pendidikan kejuruan dan teknis.

Xi juga menyerukan agar tujuan dan prinsip Piagam PBB serta norma-norma dasar hubungan internasional yang diakui secara universal dipatuhi secara menyeluruh.

“Tidak boleh ada standar ganda, dan aturan yang berlaku di dalam negeri segelintir negara tidak boleh dipaksakan kepada negara lain,” ujar Xi.

Sementara itu, profesor Universitas Rusia-Tajik (Slavia), Rahmon Ulmasov, mengatakan Inisiatif Tata Kelola Global (GGI) yang diusulkan Xi mencerminkan perubahan dalam sistem dunia serta merespons aspirasi sebagian besar negara terhadap tata kelola global yang lebih adil dan representatif.

Xi berulang kali menggunakan metafora pai untuk menggambarkan manfaat kerja sama internasional.