NADIKABAR.COM — Di era sepakbola yang cenderung mekanis dan sistemis, Lamine Yamal coba memberi warna lain. Ia mengambil risiko dan bermain-main dengan lawan.

Yamal sudah menjadi fenomena di dunia sepakbola sejak usia belia. Ia baru berusia 17 tahun ketika membawa Spanyol juara Piala Eropa 2024 dan dua tahun lebih tua ketika memenangi Piala Dunia 2026 lalu.

Bersama Barcelona, pemain berdarah Maroko dan Guinea Khatulistiwa itu sudah tiga kali juara LaLiga, satu kali memenangi Copa del Rey, dan dua kali meraih Piala Super Spanyol. Tapi Yamal bukan sekadar sukses dan trofi-trofi.