NADIKABAR.COM — Yayasan Desabumi bersama Society of Renewable Energy (SRE) Indonesia dan relawan menghimpun bantuan senilai Rp100 juta untuk masyarakat terdampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat.

"Ketika saudara-saudara kita di Kalimantan Barat mengalami kesulitan, kita yang berada di Jakarta ataupun daerah lain harus ikut peduli. Kita ini satu keluarga besar, satu bangsa," kata Pendiri Desabumi Gamma A Thohir dikutip dari keterangan tertulis, Sabtu.

Bantuan tersebut dijadwalkan disalurkan pada 10-13 Oktober 2026 ke Pulau Datok, Kabupaten Kayong Utara, dan Desa Ulak Medang, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat.

Penyaluran bantuan melibatkan relawan Desabumi dan Komunitas SRE Tanjungpura. Mereka akan menempuh perjalanan sekitar 16 jam dari Pontianak melalui jalur darat dan laut untuk menjangkau masyarakat terdampak.

Bantuan yang disiapkan meliputi sembako dan kebutuhan dasar, dukungan logistik dan transportasi, serta pembekalan pengetahuan bagi relawan.

Kegiatan tersebut juga mencakup aktivitas sosial untuk memberikan dukungan moral kepada masyarakat.

Gamma mengatakan kepedulian terhadap sesama tidak harus menunggu seseorang memiliki sumber daya besar atau kedudukan tertentu. Menurut dia, kontribusi dapat diberikan melalui tenaga, waktu, pikiran, maupun materi.

Ia menambahkan, generasi muda perlu mengimbangi kemampuan akademik dan profesional dengan kepedulian sosial serta kemauan untuk membantu masyarakat yang menghadapi kesulitan.

Sementara itu, Pendiri SRE Indonesia Zagy Berian mengatakan penyaluran bantuan harus dilakukan dengan mengedepankan tanggung jawab dan tata kelola yang baik, termasuk pencatatan serta dokumentasi penggunaan dana.

"Setiap pengeluaran, aktivitas, dan proses penyaluran bantuan harus kita upayakan tercatat dan terdokumentasi dengan baik, sehingga seluruh kontribusi yang diberikan dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.

Ia mengatakan kolaborasi berbagai pihak memungkinkan kontribusi yang berbeda, mulai dari sumbangan dana hingga keterlibatan langsung di lapangan, memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat terdampak.

Dalam kegiatan yang digelar secara hibrida tersebut, relawan juga berdialog dengan petugas pemadam kebakaran dan masyarakat mengenai dampak karhutla di Kalimantan Barat.

Petugas pemadam menjelaskan bahwa kebakaran di lahan gambut memiliki tantangan tersendiri karena api dapat merambat di bawah permukaan tanah dan muncul kembali di lokasi berbeda.

Kondisi itu membutuhkan kewaspadaan dan patroli rutin untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.

Ketua Tim Relawan Tiara mengatakan para relawan telah mempersiapkan diri untuk menjalankan kegiatan kemanusiaan selama empat hari, termasuk kesiapan fisik dan kemampuan berkomunikasi dengan masyarakat.

Selain mendistribusikan bantuan, para relawan merencanakan kegiatan hiburan sederhana untuk membantu membangkitkan semangat warga terdampak.

Aksi tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat sekaligus memberikan dukungan moral di tengah dampak karhutla.

Penanganan bencana juga memerlukan upaya berkelanjutan melalui patroli, deteksi dini, edukasi, dan peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, terutama selama musim kemarau.