"Geomitologi mengkaji bagaimana budaya masa lalu mencatat lanskap dan fitur geologi. Di balik mitos fenomena alam, tersimpan pengetahuan serta alat komunikasi masyarakat lampau. Sastra dalam konteks ini hadir sebagai sains yang dituturkan dengan bahasa yang lain," katanya.

Mewakili dewan juri, Hasta Indriyana mengatakan membaca puluhan naskah sayembara ini bagai menyusuri Yogyakarta dalam peta mitologisnya.

"Tempat-tempat yang selama ini kita hafal dalam rute geografis seperti mendapatkan jiwa melalui cerita di balik batu, gunung, jalanan, tanah, air, dan roh-roh yang bertutur. Beberapa naskah menunjukkan kecakapan tak hanya dalam bercerita, tetapi juga menafsir tema ke pokok persoalan yang lebih beragam seperti identitas, kesenian, sejarah, gender, hingga kekerasan," katanya.

Pada malam puncak, TBY akan menyerahkan penghargaan kepada para pemenang, juara 1–3 dan juara harapan 1–2 sekaligus meluncurkan buku antologi Tutur Tumurun Jilid II yang merangkum lima karya pemenang beserta 15 cerita pendek karya pilihan juri.