Keterbatasan logistik medis akhirnya berujung pada tragedi yang merenggut nyawa anak di bawah lima tahun. Ketiadaan obat penurun panas membuat kondisi pasien balita memburuk dengan cepat hingga tidak dapat terselamatkan.

"Anaknya meninggal di tempat kita, di posko kita. Terus temanku telepon itu nangis yang kayak, 'Kita telat, kita telat'. Padahal dia cuma butuh paracetamol ya, tapi memang sudah takdir," tuturnya.

Selain kelangkaan obat, tantangan berat lainnya adalah suhu udara yang sangat ekstrem pada malam hari. Wilayah pengungsian yang berada di ketinggian membuat para warga harus bertahan di dalam tenda dengan perlengkapan tidur yang minim.