Berdasarkan analisis industri independen, kebutuhan komputasi untuk melatih berbagai model AI terkemuka dalam beberapa tahun terakhir meningkat sekitar dua kali lipat setiap enam bulan. Kapasitas komputasi kini menjadi salah satu faktor penting dalam daya saing suatu negara. Taiwan pun menargetkan diri untuk masuk dalam jajaran lima pusat komputasi terkemuka di dunia. Untuk mewujudkan target tersebut, pemerintah tengah mengembangkan New Ten Major AI Infrastructure Projects.

Universitas memegang peran besar dalam upaya ini. Selain mencetak para insinyur yang nantinya akan membangun dan mengoperasikan infrastruktur nasional, universitas juga menjadi pusat bagi semakin banyak sistem yang mendukung kegiatan penelitian. Melalui donasi ini, mahasiswa berkesempatan menggunakan berbagai alat pengelolaan klaster dalam lingkungan komputasi yang sesungguhnya sebelum menyelesaikan studi. Dengan demikian, mereka dapat memasuki dunia kerja dengan pengalaman langsung menggunakan sistem yang juga digunakan di industri.

"Para pemimpin teknologi AI masa depan Taiwan saat ini sedang mengasah kemampuan mereka di laboratorium AI terdepan di berbagai universitas," ujar Kenneth Tai, Pendiri dan Chairman Zettabyte. "Kontribusi terbaik yang dapat kami berikan adalah membuka akses bagi universitas, dosen, peneliti, dan mahasiswa terhadap teknologi komputasi AI serta perangkat AI profesional tercanggih."

"Donasi teknologi komputasi dan perangkat lunak AI ini diharapkan dapat mendorong kemajuan teknologi Taiwan, melahirkan berbagai terobosan ilmiah, sekaligus membangun fondasi yang kuat bagi lahirnya generasi talenta AI berikutnya," ujar Rocky Lee, Director Zettabyte sekaligus perancang utama program donasi komputasi AI ini.