Zulkifli menilai luas lahan sawah perlu dijaga karena sebagian lahan pertanian terus beralih fungsi menjadi kawasan permukiman maupun industri. Hal
"Sawah kita kan berkurang terus. Ada jadi rumah, ada jadi pabrik," tutur Zulhas.
"Nah ini kita sudah putuskan ada lahan sawah yang tidak berubah lagi, sudah selesai kemarin. Nah, yang kedua, menambah luasan lahan," sambungnya.
Salah satu kawasan yang disiapkan untuk mendukung produksi pangan adalah Wanam di Papua Selatan. Pemerintah ingin meningkatkan produksi beras di wilayah tersebut agar kebutuhan masyarakat Papua tidak sepenuhnya bergantung pada pasokan dari daerah lain.
"Itulah termasuk misalnya di Papua kita bikin kan Wanam yang orang banyak protes. Saya juga heran ya, kalau di Papua itu kan kalau beli beras kan dari Jawa, tentu ongkosnya mahal sekali," kata Zulhas.
Zulhas berharap rencana produksi pangan di Wanam bisa menekan harga beras. Sehingga, harga beras yang didapatkan warga sekitar jauh lebih terjangkau.
"Maka kita mati-matian agar di sana bisa swasembada, gitu. Nah itu perluasan, ya," jelas Zulhas.
Dorong Varietas Baru dan Mekanisasi
Peningkatan produktivitas juga menjadi bagian dari strategi pemerintah. Zulhas menyebut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah melakukan penelitian untuk mengembangkan varietas padi baru yang memiliki produktivitas lebih tinggi.
"Ketiga, sekarang BRIN melakukan penelitian. Perlu ada varietas-varietas baru. Misalnya kalau kita kalau Vietnam-Thailand tuh saya dengar itu bisa 8-10 ton per hektare ya, kita kan rata-rata baru 5 sampai 6. Nah ini kalau varietasnya baru, kita bisa tingkatkan ini," kata Zulhas.
"Mungkin kita juga bisa naik 6, 7, 8 itu bahkan lahannya tetap tapi produksi bisa naik. Varietas-varietas baru dikembangkan oleh BRIN ya. Banyak yang kita lakukan itu," tambahnya.
Pemerintah juga mendorong mekanisasi pertanian untuk meningkatkan efisiensi produksi. Zulhas bahkan membandingkan proses penanaman secara tradisional dengan penggunaan mesin.
"Kemudian mekanisasi. Karena kalau masih pakai tradisional, nanam padi 1 hektare satu orang itu 24 hari," ujar Zulhas.
"Kalau saya sendiri nanam padi 1 hektare (selama) 24 hari. Tapi kalau pakai mesin, satu mesin 1 hari (menjadi) 24 hektare," sambungnya.
Selain mekanisasi, pemerintah juga melihat pentingnya efisiensi penggunaan pupuk dan air. Menurut Zulhas, teknologi pertanian perlu terus dikembangkan agar biaya produksi dapat ditekan sekaligus meningkatkan produktivitas.
"Kalau kita kan masuk air, hilang. Nah itu tentu pupuknya boros. Bayangkan kita ngeluarin pupuk 9,5 juta pupuk. Produksi kita 33-34 juta. Artinya 3 kilo beras lebih, pupuknya hampir 1 kilo. Nah, itu kan mahal sekali," pungkasnya.