"Kentang itu tidak bisa tumbuh sembarangan, hanya di gunung-gunung dan produktivitasnya sebentar. Setelah 5 tahun produktif, tanahnya rusak karena memang kurang cocok. Padahal ubi atau ketela itu jauh lebih kaya gizi dari kentang," jelasnya.
Tren ketergantungan pada gandum impor bukan hal baru. Sejak 2022, sejumlah pejabat berulang kali mengingatkan impor gandum yang terus meningkat, mencapai sekitar 11 juta ton per tahun dengan nilai lebih dari Rp 58 triliun.
Pemasok utamanya berasal dari Australia, Kanada, Brasil, Argentina, dan Ukraina. Bahkan, menjelang 2030, pengusaha tepung terigu nasional dilaporkan CNBC Indonesia telah menandatangani nota kesepahaman untuk membeli minimal 1 juta ton gandum dari Amerika Serikat setiap tahun hingga 2030, menandakan ketergantungan tersebut masih berlanjut.
Zulhas kemudian membandingkan dengan pengalamannya berkunjung ke sejumlah negara Amerika Latin seperti Kolombia, Nikaragua, Brasil, dan Ekuador. Menurutnya, negara-negara tropis tersebut jauh lebih berhasil mengoptimalkan bahan pangan lokal ketimbang Indonesia.
"Kalau kita di Amerika Latin seperti Kolombia, Nikaragua, dan lain-lain, roti itu dibuat dari tepung singkong. Kalau kita kan tidak mau pusing, pakai gandum saja," katanya.
Di sana, kata Zulhas, produk turunan singkong dan ubi diolah dengan kreatif, mulai dari tepung untuk roti hingga camilan ala kentang goreng, dan disajikan dengan cara yang menarik minat generasi muda.