NADIKABAR.COM — Krisis air bersih di Gili Trawangan, Lombok Utara, mulai menghantam langsung bisnis pariwisata. Sedikitnya 10 hotel memilih berhenti menerima tamu karena tak sanggup menanggung biaya operasional selama pasokan air terhenti selama sepekan.
Ketua Gili Hotel Association (GHA), Lalu Kusnawan, mengatakan biaya membeli air tangki maupun air dari warga membuat operasional hotel tidak lagi masuk hitungan. Dia memprediksi jumlah akomodasi yang berhenti beroperasi akan bertambah hingga akhir pekan.
"Hal ini amat saya sesalkan, sudah seminggu. Saya simpulkan bahwa pemerintah gagal untuk bagaimana kita sama-sama mengawal pariwisata berkelanjutan. Pemerintah sudah gagal. Harusnya semua stakeholder punya tujuan sama," kata Lalu Kusnawan, Kamis (10/9/2026).
Kusnawan mengungkapkan setidaknya sudah ada 10 hotel yang memutuskan berhenti menerima tamu sementara waktu. Kondisi tersebut terjadi karena biaya operasional membengkak akibat terhentinya suplai air dari PT TCN yang bekerja sama dengan PDAM Amerta Dayan Gunung.
"Ada 10 hotel tidak sanggup operasi karena hitung-hitungannya tidak masuk. Bayangkan 1 hotal ada 20 karyawan saja sudah 200 orang (terdampak), ini asumsi, saya yakin lebih dari itu," katanya.
Dia menilai dampak ketiadaan suplai air jauh lebih besar dibandingkan manfaat penundaan izin operasional air sesuai regulasi yang saat ini diperdebatkan.
"Saya diinfokan sampai hari Sabtu, bertambah yang tidak bisa beroperasi karena tidak bisa menanggung beban biaya beli air. Mestinya PDAM membeli air payau dari masyarakat, sumur warga dibayar lalu didistribusikan ke kita. Upaya ini saya lihat masih kurang dari pemerintah," tegasnya.
Menurut hitungan kasar Kusnawan, kebutuhan air untuk 20 kamar saja tanpa kolam renang mencapai 15 kubik per hari untuk keperluan mandi dan mencuci tamu.