NADIKABAR.COM — Bencana kekeringan yang melanda Provinsi Gorontalo berdampak pada 145 desa di 37 kecamatan dengan total 44.747 jiwa atau 16.056 Kepala Keluarga (KK) terdampak, berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Gorontalo per 16 Oktober 2026.
Analis Kebencanaan BPBD Provinsi Gorontalo Mohamad Tahir Laendeng di Gorontalo, Senin, mengatakan penanganan kekeringan dilakukan melalui distribusi air bersih hingga 16 Oktober 2026 yang tercatat mencapai 5.990.510 liter.
Penyaluran air bersih dilakukan bersama BPBD kabupaten dan instansi terkait untuk membantu memenuhi kebutuhan masyarakat di wilayah yang mengalami kesulitan air akibat kemarau.
Berdasarkan data BPBD, Kabupaten Bone Bolango menjadi wilayah dengan jumlah desa terdampak terbanyak, yakni 44 desa. Berikutnya Kabupaten Gorontalo sebanyak 40 desa, Gorontalo Utara 28 desa, Pohuwato 19 desa, dan Boalemo 14 desa.
BPBD Provinsi Gorontalo berkoordinasi dengan BPBD kabupaten, Dinas Sosial, Palang Merah Indonesia (PMI), serta instansi lain, dalam penanganan dampak kekeringan. Distribusi air bersih juga dilaksanakan oleh sejumlah pihak sesuai kebutuhan di wilayah terdampak.
Selain kekeringan, BPBD turut memantau kejadian kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam pembaruan data periode 25 Juli hingga 16 Oktober 2026 tercatat 227 kejadian karhutla di Provinsi Gorontalo.
Berdasarkan perkiraan BMKG yang tercantum dalam laporan BPBD Provinsi Gorontalo musim kemarau di seluruh wilayah Provinsi Gorontalo diperkirakan berlangsung hingga November 2026. Karena itu instansi terkait diimbau meningkatkan kesiapsiagaan dan melakukan langkah mitigasi terhadap dampak lanjutan musim kemarau.