Di sisi lain, pemerintah terus melakukan upaya penanganan Karhutla melalui udara. Selama periode 20 April-11 Oktober 2026, operasi water bombing telah dilakukan sebanyak 5.006 kali penerbangan (flight cycle) dengan melibatkan 38 pesawat udara sipil asing yang dioperasikan oleh 11 operator. Operasi tersebut tersebar di berbagai wilayah rawan Karhutla, antara lain Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Lampung, Aceh, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua Barat.

Dalam pelaksanaan pengawasan, Ditjen Perhubungan Udara terus berkoordinasi dengan berbagai kementerian/lembaga dan pemangku kepentingan terkait. Koordinasi dilakukan antara lain dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terkait informasi cuaca dan jarak pandang, serta dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), dan pemerintah daerah terkait penanganan Karhutla.

Koordinasi operasional juga dilakukan bersama AirNav Indonesia, penyelenggara bandar udara, dan operator penerbangan agar setiap penyesuaian operasional dapat dilakukan secara cepat, terukur, dan tetap mengutamakan keselamatan.

Ditjen Perhubungan Udara mengimbau masyarakat untuk dapat memaklumi apabila terjadi keterlambatan maupun pembatalan penerbangan akibat kondisi asap Karhutla. Keputusan tersebut diambil semata-mata demi keselamatan penumpang dan awak pesawat.

"Kami mengajak masyarakat untuk memahami bahwa penundaan atau pembatalan penerbangan dilakukan demi keselamatan bersama. Bagi masyarakat yang akan bepergian dengan pesawat, kami imbau untuk memperhatikan perkembangan cuaca dan selalu memeriksa status penerbangan melalui kanal resmi maskapai dan bandar udara sebelum berangkat," ujar Lukman.