Kita membutuhkan politik yang memberi ruang bagi perbedaan, pendidikan yang mengajarkan keberanian berpikir sekaligus tanggung jawab, media yang mengutamakan ketelitian, serta masyarakat yang tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan martabat orang lain.
Kehidupan bersama juga membutuhkan kepercayaan. Ketika masyarakat hidup dalam ketakutan dan kecurigaan, yang rusak bukan hanya hubungan antarmanusia, tetapi juga kepercayaan terhadap hukum, institusi, dan sesama warga negara.
Karena itu, mengingat 1965 bukan semata-mata urusan masa lalu. Ia berkaitan dengan bagaimana kita membangun Indonesia hari ini.
Sejarah tidak seharusnya menjadi gudang untuk menyimpan dendam.
Melalui cermin itu, kita dapat melihat bagaimana ketakutan, fanatisme, propaganda, perebutan kekuasaan, dan kekerasan dapat membawa sebuah bangsa ke dalam tragedi.
Tetapi cermin juga memberi kesempatan untuk memperbaiki diri.
Maka, pertanyaan paling penting pada setiap 1 Oktober bukan semata-mata siapa yang menang dan siapa yang kalah.
Pertanyaannya lebih sederhana, tetapi sekaligus lebih berat: apa yang kita pelajari?
Jika sejarah membuat kita semakin mudah membenci, mungkin kita baru menghafalnya.
Namun, jika sejarah membuat kita lebih teliti memeriksa fakta, lebih berani mendengar kesaksian, lebih menghargai hukum, lebih terbuka terhadap perbedaan, dan lebih menolak kekerasan, barangkali sejarah akhirnya bekerja sebagaimana mestinya.
Bangsa yang besar bukan bangsa yang memiliki masa lalu tanpa luka.
Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menatap lukanya sendiri tanpa harus mewariskan luka itu kepada anak cucunya.
Tian Rahmat. Alumnus Filsafat Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, Flores.