NADIKABAR.COM — Penutupan SDN Setono, Kelurahan Setono, Kecamatan Jenangan, Ponorogo, membawa perubahan bagi siswa yang sebelumnya bersekolah di sana. Mereka kini harus melanjutkan pendidikan di sekolah negeri lain setelah SDN Setono resmi berhenti beroperasi mulai tahun ajaran 2026/2027.
Salah satunya Amri Zahroni, siswa kelas IV yang kini bersekolah di SDN 1 Japan. Amri mengaku mulai pindah sekolah sejak Juli 2026. Meski harus beradaptasi dengan lingkungan baru, ia justru merasa senang karena kini memiliki lebih banyak teman.
"Aku senang kok sekolah di sini. Dulu SDN Setono ditutup, sekarang teman-temannya banyak," kata Amri, Kamis (20/8/2026).
Saat masih bersekolah di SDN Setono, Amri hanya memiliki satu teman sekelas. Kini, kelasnya di SDN 1 Japan dihuni sekitar 22 siswa.
"Kalau dulu cuma sama satu teman, sekarang banyak teman," ujarnya.
Hal serupa dirasakan Dafa Putra Pratama, siswa kelas V. Ia menilai suasana belajar di sekolah barunya lebih menyenangkan karena jumlah siswa jauh lebih banyak dibandingkan sekolah sebelumnya.
"Ya senang, siswanya banyak. Kalau di SDN Setono sedikit banget siswanya. Nggak apa-apa pindah," tutur Dafa.
Diketahui, SDN Setono resmi ditutup setelah tiga tahun berturut-turut tidak menerima siswa baru. Sekolah tersebut berhenti beroperasi sejak Juli 2026, bertepatan dengan pelaksanaan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).
Pantauan di lokasi pada Kamis (20/8), bangunan sekolah tampak sepi tanpa aktivitas belajar mengajar. Sejumlah ruang kelas sudah kosong dari meja dan kursi. Bahkan, ruang kelas I dan II ditutup menggunakan seng.
Pelaksana Tugas (Plt) Lurah Setono Handry Reza Pratama membenarkan penutupan SDN Setono. Menurut dia, sekolah tersebut telah mengalami kesulitan mendapatkan murid baru selama beberapa tahun terakhir.
"Dari dulu kelas 1, 2, 3 itu tidak ada siswanya. Kadang ada yang daftar cuma satu atau dua anak, lalu akhirnya pindah," katanya.
Minimnya jumlah siswa bahkan membuat calon murid yang sempat mendaftar akhirnya memilih pindah karena tidak memiliki cukup teman sekelas.
Saat ditutup, masih terdapat enam siswa yang harus melanjutkan pendidikan di sekolah lain. Mereka kemudian dialihkan ke sekolah negeri terdekat di wilayah Jenangan dan Babadan.
Dari enam siswa tersebut, dua anak pindah ke SDN 1 Japan, sedangkan empat lainnya melanjutkan pendidikan di SDN 1 Singosaren.
Handry mengaku menyayangkan penutupan SDN Setono. Sebab, sekolah tersebut merupakan satu-satunya sekolah dasar negeri yang berada di wilayah Kelurahan Setono.
Pihak kelurahan, kata dia, sebelumnya telah berulang kali melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait keberadaan sekolah tersebut. Namun, keputusan memilih sekolah tetap berada di tangan orang tua.
"Sebenarnya kami sudah sering sosialisasi ke warga. Tapi keputusan tetap di orang tua, dan banyak yang memilih sekolah yang dianggap lebih favorit," pungkasnya.