Dia mengatakan hal tersebut didasarkan pada rekam medis peserta CKG tahun lalu, khususnya data hipertensi dan gula darah yang menjadi dua faktor risiko utama stroke serta penyakit kardiovaskular. Data tersebut dihitung hingga 30 September 2026.

Dari pemantauan hipertensi, Kementerian Kesehatan menemukan bahwa sebanyak 6,81 juta peserta CKG tahun lalu terdiagnosis mengalami tekanan darah tinggi.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,41 juta peserta kembali mengikuti CKG tahun ini. Di antara peserta yang kembali tersebut, sebanyak 1,13 juta orang atau 46,9% memiliki tekanan darah yang terkendali.

Sementara itu, dari pemantauan gula darah, Kementerian Kesehatan menemukan sebanyak 1,02 juta peserta CKG tahun lalu terdiagnosis diabetes melitus.

Sebanyak 340.117 peserta di antaranya kembali mengikuti CKG tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 235.895 orang atau 69,4% memiliki kadar gula darah yang terkendali.

Jika tren tersebut berlanjut, Dante meyakini CKG dapat menjadi langkah awal untuk mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.

Sebagai dampaknya, angka harapan hidup Indonesia yang saat ini rata-rata mencapai 71 hingga 72 tahun diharapkan meningkat menjadi 76 hingga 78 tahun.

"Jadi, manfaatnya (CKG) baru terasa di tahun 2035, tapi sudah kita mulai kerjakan dari sekarang. Jadi, sampai 10 tahun nanti kita benar-benar akan merasakan manfaatnya," tutup Dante beberapa waktu lalu.