NADIKABAR.COM — Presiden RI Prabowo Subianto telah melakukan berbagai upaya untuk meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat selama dua tahun kepemimpinannya. Salah satunya melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang diluncurkan pada Februari 2025.
Program CKG merupakan program skrining medis gratis yang ditujukan bagi semua kalangan, mulai dari balita hingga lansia. Dengan mendatangi puskesmas terdekat, masyarakat dapat mengetahui status kesehatan dan mendeteksi risiko penyakit sejak dini, seperti penyakit kardiovaskular, diabetes melitus, hingga tuberkulosis.
Melalui program CKG, Prabowo ingin memperluas akses terhadap skrining kesehatan, terutama bagi masyarakat yang memiliki keterbatasan dalam mengakses layanan kesehatan.
Lewat program tersebut, masyarakat dapat mengetahui risiko kesehatan sejak dini dan menanganinya sebelum berkembang menjadi penyakit kronis. Terlebih, pengobatan dan pemulihan penyakit kronis membutuhkan biaya tinggi yang dapat memberatkan kondisi finansial masyarakat.
Namun, tujuan CKG tidak berhenti di situ. Bagi Prabowo, CKG merupakan investasi strategis dalam pengembangan sumber daya manusia (SDM) untuk masa depan Indonesia.
Melalui CKG, masyarakat diharapkan dapat menjaga kesehatan agar tetap produktif dalam jangka panjang. Dengan produktivitas yang terjaga, masyarakat diharapkan dapat terus meningkatkan taraf hidup dan menggapai cita-cita. Pada akhirnya, hal ini juga diharapkan berdampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia.
Selain itu, CKG diharapkan dapat menghemat anggaran kesehatan untuk penanganan penyakit kronis pada masa depan. Dengan demikian, program ini bukan sekadar langkah populis, melainkan juga langkah rasional untuk mewujudkan Indonesia yang lebih produktif.
"Ini adalah program peningkatan produktivitas. Para ahli saya menyatakan bahwa dalam jangka panjang, kita akan menghemat miliaran dolar AS," ujar Prabowo saat menyinggung CKG dalam pidatonya di World Economic Forum beberapa waktu lalu.
Pemerintah Perluas Jangkauan dan Tingkatkan Kualitas CKG
Pemerintah menyadari bahwa masyarakat yang sehat merupakan fondasi untuk membangun generasi unggul. Oleh karena itu, pemerintah menargetkan CKG dapat dimanfaatkan oleh 130 juta orang pada akhir tahun ini.
Dalam pidato kenegaraan di Gedung DPR pada 14 Agustus lalu, Presiden Prabowo mengatakan akan meningkatkan kualitas pelaksanaan program tersebut sekaligus memperluas jangkauannya agar dapat menjangkau lebih banyak masyarakat.
CKG menjadi salah satu bentuk kehadiran negara dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat demi mewujudkan kehidupan yang lebih sejahtera.
"Negara harus menjaga kesehatan rakyat sebelum mereka sakit berat," ujarnya.
CKG Dorong Peningkatan Harapan Hidup Masyarakat
Hingga 4 Oktober 2026, program ini telah dimanfaatkan oleh sekitar 105 juta orang. Namun, target CKG bukan sekadar jumlah peserta. Pemerintah juga menganalisis potensi risiko kesehatan peserta untuk merumuskan kebijakan strategis guna mencegah dan menangani masalah kesehatan.
Sebagai contoh, sepanjang pelaksanaan CKG, Kementerian Kesehatan menemukan tiga masalah kesehatan yang paling banyak dialami peserta, yakni dislipidemia atau gangguan kadar lemak dalam darah, hipertensi, dan diabetes.
Berdasarkan data tersebut, pemerintah melakukan tata laksana terhadap ketiga masalah kesehatan itu agar masyarakat terhindar dari penyakit kronis, seperti stroke dan penyakit kardiovaskular lainnya. Tata laksana ini mencakup pemberian pengobatan serta perawatan gratis untuk membantu masyarakat menerapkan pola hidup yang lebih sehat.
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono mengatakan upaya skrining dan tata laksana tersebut telah membantu masyarakat mengendalikan faktor risiko kesehatan sejak dini, sekaligus mendorong perubahan pola hidup menjadi lebih sehat.
Dia mengatakan hal tersebut didasarkan pada rekam medis peserta CKG tahun lalu, khususnya data hipertensi dan gula darah yang menjadi dua faktor risiko utama stroke serta penyakit kardiovaskular. Data tersebut dihitung hingga 30 September 2026.
Dari pemantauan hipertensi, Kementerian Kesehatan menemukan bahwa sebanyak 6,81 juta peserta CKG tahun lalu terdiagnosis mengalami tekanan darah tinggi.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 2,41 juta peserta kembali mengikuti CKG tahun ini. Di antara peserta yang kembali tersebut, sebanyak 1,13 juta orang atau 46,9% memiliki tekanan darah yang terkendali.
Sementara itu, dari pemantauan gula darah, Kementerian Kesehatan menemukan sebanyak 1,02 juta peserta CKG tahun lalu terdiagnosis diabetes melitus.
Sebanyak 340.117 peserta di antaranya kembali mengikuti CKG tahun ini. Dari jumlah tersebut, sebanyak 235.895 orang atau 69,4% memiliki kadar gula darah yang terkendali.
Jika tren tersebut berlanjut, Dante meyakini CKG dapat menjadi langkah awal untuk mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Sebagai dampaknya, angka harapan hidup Indonesia yang saat ini rata-rata mencapai 71 hingga 72 tahun diharapkan meningkat menjadi 76 hingga 78 tahun.
"Jadi, manfaatnya (CKG) baru terasa di tahun 2035, tapi sudah kita mulai kerjakan dari sekarang. Jadi, sampai 10 tahun nanti kita benar-benar akan merasakan manfaatnya," tutup Dante beberapa waktu lalu.