Kusni melanjutkan, dia menerima telepon dari tetangganya yang memberitahukan bahwa KM Virgo Transport 8 yang ditumpangi adik iparnya tenggelam. Ia pun berharap Nur Hisyam ditemukan dalam kondisi selamat.

"Cuma itu tok (dikabari kapal tenggelam). Ini baru nunggu kabar. Nggih, berharap selamat. Ketemu, selamat, sehat, jelas itu. Ya memang dia profesinya memang di truk," bebernya.

Saat berangkat, Nur Hisyam berstatus kernet dalam truk yang disopiri Ahmad Bukhori alias Mamad (31), warga Dusun Ngencek, juga Desa Kalikuto. Berbeda dengan Hisyam, Mamad kondisinya selamat, bahkan sudah mengabari pihak keluarga.

Istri Mamad, Ngaeni Mutoharoh (29), mengatakan, pada Kamis (10/9) sekitar pukul 10.00 WIB, suami berangkat dari rumah. Kemudian menuju ke Salaman untuk membuat barang.

"Bermalam di situ (Salaman). Berangkat ke pelabuhan itu Jumat malam (11/9), terus hari Sabtu (12/9) naik kapal," kata Ngaeni kepada wartawan ditemui di rumahnya Dusun Ngencek, Desa Kalikuto.

"Terus jam 3 itu sudah nggak aktif, kan di kapal itu kan enggak ada sinyal. Sudah nggak aktif, terus sampai Minggu (13/9) kemarin. Hari Minggu itu jam 10 saya dikabari juragannya dikasih kabar kalau kapalnya tenggelam. Langsung syok," sambungnya.

Ia mengatakan, sebelum kejadian pada, Sabtu (12/9) sempat video call (VC) dengan suaminya. Saat itu hanya ngobrol biasa saja.

"Bawa kaligrafi. Sabtu (telepon). Habis VC-nan. Itu kan, baru itu sorenya jam 3 tak WA sudah nggak aktif, sudah jalan kapalnya, kan mati nggak ada sinyal," imbuhnya.

"Ya, biasa VC, biasa ngobrol-ngobrol gitu aja. Sopir (sejak) bujang," tutur Ngaeni.

Ngaeni menambahkan, suaminya berangkat biasanya temannya gonta-ganti. Kemudian saat berangkat, Kamis (10/9) bersama Hisyam yamg merupakan warga Kampung Gendolan, atau secara administratif Dusun Bongso.