Ziarah makam ini menjadi bagian dari rangkaian agenda 'September Hitam' yang digalang oleh elemen masyarakat sipil sepanjang bulan Agustus dan September. Menurut Eko, nama Munir disuarakan sebagai pemantik untuk menuntut keadilan bagi berbagai kasus pelanggaran HAM berat lainnya.

Beberapa peristiwa sejarah yang direfleksikan dalam momentum September Hitam ini tim redaksi lain pembunuhan Pendeta Yeremia, Salim Kancil, Tragedi Semanggi, peristiwa 1965, hingga Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan yang terjadi pada rentang September-Oktober 2022.

"Harapannya aksi perlawanan ini tetap terus ada. Bukan hanya pada 7 September, tetapi di setiap perjuangan teman-teman untuk menghadirkan sosok Munir dan penegakan keadilan HAM di Indonesia," tandasnya.