NADIKABAR.COM — Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Rakyat Bangkit Bersatu menggelar aksi simbolik dan ziarah di Tempat Pemakaman Umum (TPU) Sisir, Kota Batu, Senin (7/9) sore. Kedatangan massa ini dalam rangka memperingati 22 tahun kematian pejuang Hak Asasi Manusia (HAM) Munir Said Thalib.

Aksi yang berlangsung sejak pukul 15.30 WIV hingga 18.00 WIB ini diisi dengan rangkaian kegiatan ziarah makam, aksi diam, refleksi, menyalakan lilin serta menyuarakan perjuangan untuk mengusut tuntas kasus kematian Munir. Kegiatan tersebut dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, perwakilan Komite Kamisan, Aliansi Mahasiswa Resah Brawijaya hingga BEM Malang Raya.

Komite Kamisan, Eko, menyatakan bahwa ziarah ke makam Munir bukan sekedar agenda tahunan, melainkan sebuah bentuk protes simbolik terhadap ketidakseriusan penanganan kasus HAM oleh negara.

"Hari ini kita mengkhususkan untuk berziarah kepada pahlawan bangsa, Cak Munir. Aksi ini merupakan bentuk protes simbolik kepada negara yang sampai sekarang tidak memberikan atensi yang cukup berarti terhadap pengusutan kasus kematian Munir Said Thalib," ujar Eko ditemui NadiKabar, Senin (7/9/2026).

Eko menegaskan, meski secara hukum konvensional kasus ini dianggap kedaluwarsa setelah 18 tahun, para aktivis mendesak agar tim Ad Hoc Komnas HAM tetap mengusut tuntas dan membuka kembali kasus pembunuhan Munir. Pasalnya, hingga saat ini dalang utama atau aktor intelektual di balik pembunuhan tersebut belum tersentuh hukum.

Selain itu, massa juga menyoroti kejanggalan hilangnya berkas penanganan kasus Munir di Kementerian Sekretariat Negara (Kersetneg). Menurut Eko, Hal itu mencerminkan kelalaian fatal negara dalam memberikan keadilan bagi anak bangsanya.

Ziarah makam ini menjadi bagian dari rangkaian agenda 'September Hitam' yang digalang oleh elemen masyarakat sipil sepanjang bulan Agustus dan September. Menurut Eko, nama Munir disuarakan sebagai pemantik untuk menuntut keadilan bagi berbagai kasus pelanggaran HAM berat lainnya.

Beberapa peristiwa sejarah yang direfleksikan dalam momentum September Hitam ini tim redaksi lain pembunuhan Pendeta Yeremia, Salim Kancil, Tragedi Semanggi, peristiwa 1965, hingga Tragedi Kemanusiaan Kanjuruhan yang terjadi pada rentang September-Oktober 2022.

"Harapannya aksi perlawanan ini tetap terus ada. Bukan hanya pada 7 September, tetapi di setiap perjuangan teman-teman untuk menghadirkan sosok Munir dan penegakan keadilan HAM di Indonesia," tandasnya.