"Kuliner kita juga tidak kalah dari tempat-tempat lain. Kalau pagi ada yang namanya ketan kratok, nanti siang sedikit ada makanan khas nasi pendalungan. Makanya Ibu-ibu, kalau yang baru datang atau yang belum menyicipi yang namanya nasi pendalungan ini, kiranya besok siang bisa menyaksikan atau mencicipi makanan khas Kota Probolinggo berupa nasi pendalungan," kata dokter Amin.

Bagi Dekranasda Kota Probolinggo, rekor MURI bukan menjadi tujuan akhir. Kegiatan tersebut juga diarahkan untuk memperkuat pelestarian batik dan mendorong regenerasi pembatik.

dr. Evariani mengatakan pelibatan pelajar dari berbagai jenjang pendidikan menjadi bagian dari upaya memperkenalkan batik kepada generasi muda.

"Tahun ini kami mengusung inovasi baru agar Batik in Motion terus berkembang, naik kelas, dan tidak membosankan. Kami sengaja melibatkan anak-anak sekolah sejak usia SD hingga SMA untuk menjembatani jurang regenerasi dengan para pembatik senior," ujar dr. Evariani.

Selain itu, Batik in Motion dirancang untuk menghubungkan berbagai sektor ekonomi kreatif, mulai dari pembatik dan desainer hingga UMKM kuliner, transportasi, perhotelan, dan pariwisata.

"Kata 'motion' yang berarti bergerak mencerminkan komitmen kami untuk menggerakkan seluruh ekosistem ekonomi kreatif, mulai dari desainer, pembatik, UMKM kuliner, transportasi, perhotelan, hingga sektor pariwisata. Kami berharap Batik in Motion ini dapat menjadi laboratorium percontohan ekonomi kreatif nasional yang dapat direplikasi oleh daerah lain di Indonesia demi membawa Batik Probolinggo mendunia," pungkas dr. Evariani optimis.

Batik in Motion 2026 juga dihadiri Sekretaris Dekranasda Provinsi Jawa Timur, perwakilan Pemerintah Kabupaten Ponorogo, serta ketua Dekranasda dari sejumlah kabupaten/kota di Jawa Timur.

Delegasi yang hadir tim redaksi lain berasal dari Banyuwangi, Bojonegoro, Kediri, Ngawi, Blitar, Malang, Pasuruan, Bondowoso, Sampang, Lumajang, Nganjuk, Sidoarjo, Mojokerto, Bangkalan, dan Ponorogo.

Sementara itu, salah satu peserta kompetisi peragaan busana batik futuristik, Febrilian, mahasiswa semester VII jurusan fesyen Universitas Negeri Malang, menjadi satu dari 10 finalis terpilih.

"Ini adalah pengalaman pertama bagi saya merancang busana untuk peragaan outdoor yang megah seperti ini. Senang sekali rasanya karya saya bisa dipromosikan langsung di hadapan publik. Desain busana yang saya bawa mengusung konsep arsitektur parametrik futuristik yang dipadukan secara kolaboratif dengan kain batik khas Probolinggo," ungkapnya.

Rangkaian Batik in Motion 2026 masih berlanjut hingga Minggu (6/9). Kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya menjadi perayaan budaya, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan batik khas Probolinggo sekaligus menggerakkan berbagai sektor ekonomi kreatif dan pariwisata daerah.