"Jadi yang pertama ditargetkan itu adalah jam-jam sibuk ketika berangkat kerja dan pulang kerja, kemudian jam-jam makan siang, serta lokasi tempat berkumpulnya massa seperti stasiun KRL, stasiun MRT, dan tempat-tempat pusat perbelanjaan," lanjutnya.
Dia juga mengatakan, para tersangka membatasi laju kendaraan yang digunakan hanya sekitar 30 hingga 40 Km/jam. Sebab, jarak jangkauan dari fake BTS untuk bisa memblast SMS hanya 1 hingga 1,5 Km.
Grawas pun mengungkapkan jika otak dari tindakan kejahatan ini adalah AGW. AGW merancang tindak kejahatannya ini setelah mempelajarinya lewat video di Telegram.
"Jadi dari online, kemudian dia coba-coba, akhirnya dia impor sendiri ya. Dari medsos sih, belajarnya dari situ, belajarnya dari medsos. Dia baca di sebuah channel Telegram menawarkan ada kesempatan untuk mengirimkan SMS ini, dicoba akhirnya dilakukan kejahatannya seperti itu," imbuhnya.
Adapun pengungkapan kasus ini diawali dari adanya laporan tiga korban yang menerima SMS berisi promo dengan mengatasnamakan perbankan maupun e-commerce. Dalam SMS tersebut, korban diberikan sebuah link untuk masuk ke dalam website palsu yang menyerupai website asli dari perbankan maupun e-commerce.
"Masing-masing itu menerima SMS yang berbeda. Ada yang dari perbankan, ada yang dari e-commerce, ada juga dari provider. Yang intinya mengatakan bahwa 'Saldo poin plus-plus Anda sudah mau habis. Untuk menukarkan menjadi voucher atau menjadi barang, silakan klik link berikut ini', dan diarahkan ke sebuah website yang palsu menyerupai website yang asli," ungkap Grawas.
"Ketika masuk ke website palsu tersebut, si korban diminta untuk memasukkan credit card," imbuh dia.
Dia menyampaikan, pihaknya pun langsung melakukan serangkaian penyelidikan. Akhirnya, pada 31 Juli 2026, ditemukan sebuah mobil yang dicurigai berkaitan dengan tindakan kejahatan berupa SMS palsu ini.