NADIKABAR.COM β€” Daya tarik wisata Jakarta tidak hanya terletak pada museum, pusat perbelanjaan, kuliner, dan kehidupan malam. Festival musik juga menjadi salah satu magnet wisata yang menarik pengunjung ke Ibu Kota.

Pada paruh kedua 2026, ada tiga festival musik besar yang bisa dinikmati, yakni Pestapora, Synchronize Festival, dan Djakarta Warehouse Project (DWP). Ketiganya memiliki karakter berbeda. Namun, jika dilihat sebagai rangkaian wisata musik, ketiganya membentuk kalender perjalanan yang menarik dari September hingga Desember.

Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif DKI Jakarta Andhika Permata menyatakan penyelenggaraan tiga festival musik tersebut pada September hingga Desember 2026 tidak hanya meningkatkan kunjungan wisatawan nusantara dan mancanegara, tetapi juga memperpanjang lama tinggal atau length of stay wisatawan.

Pestapora berlangsung pada 25-27 September 2026 di Gambir Expo dan Hall D2 JIExpo Kemayoran. Festival tahun kelima ini mengusung gagasan coming home to the audience dengan target 105.000 penonton selama tiga hari. Penyelenggara menyebut Pestapora sebagai perayaan musik Indonesia yang menghadirkan puluhan ribu pengunjung, ratusan penampil, dan beragam aktivitas.

Daya tarik Pestapora terletak pada spektrum musiknya yang luas. Tulus, Raisa, Mahalini, Rizky Febian, Pamungkas, Bernadya, Hindia, Maliq & D'Essentials, Barasuara, The SIGIT, J-Rocks, God Bless, Burgerkill, Project Pop, NDX AKA, hingga Inul Daratista berada dalam satu festival. Ada pula format khusus seperti Tipe-X Orcheska, Keroncong Agak Laen, Robokop, dan Kevin Cotok.

"Bagi wisatawan, Pestapora menawarkan alasan untuk memperpanjang kunjungan. Festival menyediakan sembilan area pertunjukan dan 14 community area. Artinya, perjalanan tidak berhenti pada konser, tetapi dapat dilanjutkan dengan menjelajahi aktivitas komunitas dan kawasan Kemayoran," ujar Andhika dalam keterangan tertulis, Jumat (16/10/2026).

Kurang dari sebulan kemudian, Jakarta kembali menjadi tujuan wisata musik melalui Synchronize Festival yang berlangsung pada 16-18 Oktober 2026 di Gambir Expo Kemayoran, Jakarta Pusat.

Memasuki tahun ke-11, Synchronize Fest menghadirkan tujuh panggung dengan spektrum musik yang mencakup arus utama, independen, eksperimental, hingga komunitas. Daftar penampil yang telah diumumkan pada fase awal mencakup Hindia, Perunggu, Rizky Febian & Mahalini, Seringai, The Panturas, Bernadya, .Feast, serta kolaborasi Reality Club x Phum Viphurit.

Nilai jual Synchronize Fest juga terletak pada pengalaman di luar panggung. Konsep festival ini menggabungkan musik dengan seni, tari tradisional, film, program keluarga, pasar kreatif, komunitas, kolektif lokal, dan gerakan lingkungan. Program Warga Wargi Menanam menjadi bagian dari Green Movement.

"Pendekatan tersebut membuat Synchronize Fest lebih dekat dengan konsep wisata budaya. Pengunjung dari luar Jakarta tidak hanya menyaksikan musisi, tetapi dapat mengenali berbagai lapisan kebudayaan dan ekosistem kreatif Indonesia," ungkapnya.

Pada 11-13 Desember 2026, giliran Djakarta Warehouse Project (DWP) yang akan membawa wisatawan kembali ke Jakarta.

Setelah berlangsung di GWK Cultural Park, Bali, pada 2025, DWP kembali ke kota tempat perjalanan festival ini bermula. DWP berkembang dari acara klub pada 2008 menjadi festival musik dansa berskala internasional. Festival ini memiliki rekam jejak menghadirkan nama-nama seperti Calvin Harris, Carl Cox, Skrillex, TiΓ«sto, Martin Garrix, David Guetta, Armin van Buuren, DJ Snake, dan banyak musisi lainnya.

Salah satu identitas terkuat DWP adalah Garuda Land, panggung utama yang mengambil inspirasi dari burung Garuda. Perpaduan musik elektronik, tata cahaya, visual, dan produksi berskala besar menjadikan DWP bukan sekadar konser, melainkan pengalaman festival multisensori.

Hingga 14 Agustus 2026, daftar penampil utama DWP26 belum diumumkan secara resmi. Karena itu, nama-nama DJ yang beredar di situs pihak ketiga belum dapat dianggap sebagai penampil yang telah dikonfirmasi.

Sementara itu, Kepala Bidang Pemasaran dan Atraksi Disparekraf DKI Jakarta Lucky Wulandari menyampaikan bahwa jika disusun sebagai kalender perjalanan, ketiga festival ini memperlihatkan posisi Jakarta sebagai destinasi music tourism atau wisata musik.

Pada September, wisatawan dapat menikmati festival lintas genre melalui Pestapora. Oktober menghadirkan pengalaman musik dan budaya melalui Synchronize Fest, sedangkan Desember menutup tahun dengan musik dansa global lewat DWP.

"Dampak positif lain tidak hanya berhenti di lokasi festival. Wisatawan membutuhkan hotel, transportasi, restoran, pusat hiburan, ruang kreatif, serta destinasi wisata sebelum dan sesudah konser," tutup Lucky.