NADIKABAR.COM — Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melaporkan bahwa setidaknya tiga kapal tanker menghantam ranjau laut saat berupaya melintasi Selat Hormuz melalui rute yang dianggap "ilegal" oleh Teheran. Ketiga kapal tanker itu disebut terbakar usai menabrak ranjau laut di jalur perairan strategis tersebut.

Iran secara efektif memblokade Selat Hormuz sejak perang berkecamuk melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada akhir Februari lalu. Langkah itu memutus jalur pelayaran vital yang biasanya dilakukan oleh seperlima pasokan minyak dunia.

Otoritas Teheran bersikeras agar kapal-kapal meminta izin terhadap pihaknya sebelum melintasi jalur perairan strategis untuk pasokan minyak dan gas global itu.

"Dua kapal tanker minyak yang melanggar aturan, terbakar dan terhenti akibat ledakan ranjau-ranjau yang dipasang oleh para pelaut pemberani dari Angkatan Laut IRGC di titik perlintasan ilegal di bagian selatan Selat Hormuz," kata IRGC dalam pernyataan yang dirilis via situs web resmi mereka, Sepah News, seperti dilansir AFP, Rabu (21/10/2026).

Dalam pernyataan terpisah, IRGC juga melaporkan bahwa kapal tanker minyak ketiga "meledak dan terbakar setelah menghantam ranjau laut di sebelah selatan Selat Hormuz".

Disebutkan dalam pernyataan IRGC tersebut bahwa kapal tanker yang meledak itu "mengangkut lebih dari dua juta barel minyak mentah" dan "menonaktifkan semua sistem radar dan navigasnya".

Sementara itu, kepala staf Angkatan Bersenjata Iran, Ali Abdollahi, mengatakan secara terpisah bahwa Iran menggunakan persenjataan murah untuk menyerang peralatan mahal milik AS.

"Jika musuh melakukan kesalahan lebih lanjut, kami akan menetralisir dampak dari peralatan mereka yang mahal dan canggih, dengan menggunakan berbagai perangkat yang berbiaya rendah namun efektif," kata Abdollahi dalam pernyataannya.

Pasukan militer Iran, sejak perang Timur Tengah pecah, telah berulang kali menargetkan kapal-kapal yang berupaya melintasi Selat Hormuz melalui rute selatan yang terletak dekat pesisir Oman.

Beberapa hari terakhir, rentetan serangan terhadap kapal-kapal yang mencoba melintasi jalur perairan itu telah meningkat, ketika AS berupaya mengawal lebih banyak kapal melewati selat tersebut.

Iran terus berupaya mempertahankan kendali atas aktivitas pelayaran di Selat Hormuz.