Dia mengatakan hasil restorasi juga perlu dipelihara dan dipantau agar upaya pemulihan ekosistem dapat berlangsung secara berkelanjutan.
Star Energy Geothermal (SEG) selaku pelaksana melalui Head of Social Investment and Communications Laksmi Prasvita mengatakan perusahaan telah beroperasi di kawasan TNGHS selama 32 tahun dan menjalankan sejumlah kegiatan konservasi hutan.
Menurut data perusahaan, dari sekitar 10.000 hektare wilayah konsesi di kawasan tersebut, lahan yang digunakan untuk fasilitas operasional panas bumi mencapai 239 hektare atau sekitar 2,4 persen.
SEG juga telah menjalankan program Green Corridor Initiative (GCI) untuk mendukung pemulihan habitat dan konektivitas hutan pada area sekitar 275 hektare. Rencana restorasi 325 hektare pada 2026–2027 menjadi tambahan dari kegiatan tersebut.
Upaya pemulihan habitat di TNGHS juga berkaitan dengan keberadaan satwa liar, termasuk macan tutul jawa (Panthera pardus melas).