NADIKABAR.COM — Sebanyak 400 pelajar dari sekitar 30 sekolah belajar mengenai konsep carbon offset atau tebus karbon dalam sarasehan yang diselenggarakan Forum Alumni Siswa Pecinta Alam (Fasta) di wilayah Jakarta, Sabtu.

Ketua Dewan Pengarah Fasta, Rudi Nurcahyo, mengatakan konsep carbon offset mendorong para siswa untuk memberikan kompensasi kepada lingkungan akan setiap karbon yang dihasilkan per individu.

"Jadi karbon offset itu bagaimana kita memperhitungkan pembakaran atau pun karbon yang kita keluarkan, misalnya dia pakai transportasi, menggunakan bahan bakar, itu kita hitung. Itu ditotal, lalu kita offset, kita perhitungkan untuk menanam pohon sebagai kompensasinya," kata Rudi di Jakarta, Sabtu.

Rudi menjelaskan kegiatan bertajuk "Sarasehan Lingkungan; Learning from the Wild, Moving for the Earth" itu dilaksanakan sebagai implementasi kode etik lingkungan yang menjadi salah satu prinsip organisasi tersebut.

"Bahwa alam itu ada tidak hanya untuk dieksploitasi, tapi juga untuk dilestarikan, diamankan," kata Rudi.

Dalam kegiatan tersebut, kata Rudi, para siswa juga diajak untuk ikut menyoroti insiden kebakaran hutan dan lahan (karhutla), salah satunya sebagai dampak dari minimnya tindakan pencegahan.

"Kegiatan ini sesuai dengan kondisi saat ini, terjadinya kebakaran hutan, lahan. Ini menjadi tantangan dan motivasi terlibatnya siswa pencinta alam dalam aksi pencegahan dan perawatan alam," kata Rudi.