NADIKABAR.COM — Sebanyak 165 siswa dan guru SMP diduga keracunan usai menyantap menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Tana Toraja, Sulawesi Selatan (Sulsel). Selama menjalani perawatan, 143 orang di antaranya dilaporkan telah dipulangkan dari rumah sakit.

Ratusan korban mulai mengeluh mengalami gangguan pencernaan hingga dilarikan ke rumah sakit (RS) secara bertahap pada Kamis (3/9/2026). Siswa dan guru yang diduga mengalami keracunan berasal dari SMPN 1 Makale dan SMPN 2 Makale.

"Mari kita berdoa bersama agar seluruh siswa dan siswi yang sedang mendapatkan penanganan dapat segera membaik dan kembali stabil," ucap Bupati Tana Toraja, Zadrak Tombeg dalam keterangannya.

Dirangkum NadiKabar, berikut 6 fakta siswa dan guru SMP di Tana Toraja diduga keracunan MBG:

Siswa dan guru yang diduga keracunan MBG diketahui bertambah seiring waktu. Data dari Satgas MBG Tana Toraja hingga Jumat (4/9) pukul 16.30 Wita, mencatat total 165 siswa dan guru dirawat di tiga rumah sakit berbeda, yakni RSUD Lakipadada, RS Sinar Kasih dan RS Fatima.

Sebanyak 84 korban dirawat di RSUD Lakipadada. Rinciannya, 9 orang di antaranya masih rawat inap, sedangkan 75 lainnya sudah dipulangkan alias menjalani rawat jalan.

Di RS Sinar Kasih ada 50 orang yang dirawat, namun 43 pasien di antaranya dipulangkan dan 7 lainnya masih dirawat. Sementara di RS Fatima ada 6 pasien masih dirawat dan 43 orang sudah dipulangkan.

"Total yang masih rawat inap 22 orang, rawat jalan 143 orang," kata Sekda Tana Toraja Rudhy Andi Lolo kepada NadiKabar, Jumat (4/9).

Rudhy menuturkan, pasien yang dilarikan ke RS diduga mengalami gangguan perencanaan dengan keluhan bervariasi. Siswa dan guru yang diduga keracunan mengeluh mual, pusing hingga diare.

"Memang ada keluhan muntah, kemudian diare dari beberapa sekolah yang dilayani oleh SPPG Makale Batupapan 1," ujar Rudhy.

Menurut Rudhy, SPPG Makale Batupapan 1 melayani total 2.200 penerima manfaat MBG dari berbagai sekolah di Tator. Kendati begitu tidak semua penerima manfaat mengalami gangguan perencanaan.

"Dari SPPG-nya mereka menyajikan ayam santan mungkin begitu,tapi tidak semua yang mendapat manfaat itu (diduga mengalami keracunan), hanya dua sekolah," tuturnya.

Rudhy mengungkap, siswa dan guru dari dua SMP yang diduga keracunan sedianya menyantap MBG pada Rabu (2/9). Mereka kemudian mengeluh mengalami gangguan pencernaan sehari setelahnya atau pada Kamis (3/9).

"Artinya bahwa dugaan kalau itu disebabkan oleh makanan MBG, mungkin makanan yang kemarin. Makanan yang dia makan kemarin," uja Rudhy.

Dia melanjutkan, siswa dan guru belum menyantap MBG pada hari dilaporkan diduga keracunan. Pihak SPPG saat itu disebut menyajikan MBG ke sekolah.

"Kita juga belum bisa memastikan, apakah MBG betul (penyebabnya), siapa tahu dia makan bakso atau bagaimana, makanan di tempat lain kita belum tahu," imbuh Rudhy.

Rudhy yang juga Ketua Satgas MBG Tator ini menegaskan, dugaan keracunan yang dialami ratusan siswa dan guru masih diselidiki. Dia enggan berspekulasi soal MBG diduga menjadi pemicu.

"Kita juga tidak bisa menduga bahwa ini keracunan, mungkin saja ini adalah terkontaminasi oleh bakteri ataukah virus yang menyebabkan diare, mual dan muntah," ungkap Rudhy.

Dinas Kesehatan (Dinkes) Tana Toraja telah mengambil sampel MBG yang sempat disajikan kepada korban. Sampel itu dikirim ke Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Makassar untuk diperiksa.

"Artinya bahwa kita tetap praduga tidak bersalah, dinas kesehatan sudah melakukan pengambilan sampel muntah dan sisa makanan yang dikirimkan ke BPOM Makassar," jelasnya.

SPPG Makale Batupapan 1 pun dikenakan sanksi suspend alias operasionalnya dihentikan sementara imbas ratusan siswa dan guru diduga keracunan MBG. Kebijakan itu merupakan sanksi kategori berat menimbang risiko yang ditimbulkan.

"Operasionalnya kita hentikan selama 30 hari sejak surat ini diterbitkan, yaitu 3 September 2026," kata Kepala Kantor Pemenuhan Gizi (KPPG) Kendari, Mulyadi saat menghadiri rapat dengar pendapat (RDP) di gedung DPRD Tana Toraja, Jumat (4/9).

KPPG Kendari sebagai koordinator SPPG di sejumlah wilayah Sulsel ini akan melakukan penyelidikan lebih lanjut. Karyawan SPPG juga akan menjalani asesmen.

"Kita juga sementara melakukan asesmen terhadap 47 karyawan SPPG Batupapan. Mereka pernah menjalani pelatihan, jadi itu yang kita asesmen," ujarnya.

Sementara itu, SPPG Makale Batupapan 1 mengklaim sudah mempersiapkan menu MBG sesuai standard operating procedure (SOP). Pihaknya mengaku melibatkan ahli gizi untuk memeriksa dan menguji makanan yang akan disajikan ke siswa.

"Jadi yang bertanggung jawab itu ahli gizi. Untuk penentuan apakah makanan ini layak dikonsumsi atau tidak, ada uji organoleptik, dikonsumsi oleh ahli gizi sebelum dikirim ke penerima manfaat," kata Kepala SPPG Makale Batupapan 1, Vielty Patricia dalam RDP di DPRD Tator.

Adapun menu MBG yang disajikan adalah ayam dimasak kuning, tempe digoreng tepung, tumis sayur yang berisi labu siam, wortel dan jagung serta buah melon. Sebelum MBG diberikan ke siswa, ada person in charge (PIC) alias penanggung jawab di sekolah yang juga menguji makanan.

"Jadi kami sudah melakukan sesuai SOP, bahan yang masuk kita sortir sebelum dimasukkan ke dalam penyimpanan dan freezer. Ada ahli gizi juga yang memeriksa bahan masuk maupun menu yang didistribusikan ke siswa, dan masih ada PIC di sekolah yang menguji makanan," pungkasnya.