NADIKABAR.COM — Pucuk pimpinan Polri berganti dari Jenderal Listyo Sigit Prabowo ke Jenderal Suyudi Ario Seto. Suyudi menekankan seluruh insan Bhayangkara bergandengan tangan memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.

Suyudi menyampaikan terima kasih kepada masyarakat Indonesia. Khususnya, kata dia, seluruh anggota Polri atas dukungan yang diberikan.

"Untuk itu, dalam kesempatan yang baik ini, kami juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Indonesia, khususnya kepada seluruh insan Bhayangkara di mana pun berada, atas dukungannya selama ini," ujar Suyudi di gedung DPR, Senayan, Jakarta, Kamis (1/10).

"Dan semoga kita semua dapat bergandengan tangan dalam rangka memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat, bangsa, dan negara," sambungnya.

Setelah disetujui dalam rapat paripurna DPR RI. Presiden Prabowo lantas melantik Suyudi di Istana Kepresidenan.

Prabowo memandu pembacaan sumpah dan janji jabatan Kapolri yang diikuti oleh Suyudi.

"Saya menyatakan dan berjanji sungguh-sungguh bahwa saya akan setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia, yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 serta akan menjalankan segala peraturan perundang-undangan dengan selurus-lurusnya demi darmabakti saya kepada bangsa dan negara. Bahwa saya dalam menjalankan tugas jabatan akan menjunjung tinggi etika jabatan, bekerja dengan sebaik-baiknya dan dengan penuh rasa tanggung jawab. Bahwa saya akan menjunjung tinggi Tribrata," ujar Suyudi.

Suyudi menekankan sejumlah janji saat diberi kepercayaan sebagai Kapolri. Dirangkum NadiKabar, berikut janji Suyudi atas amanah yang diemban.

Suyudi menyatakan dirinya ingin membawa semangat yang sederhana di tubuh Polri. Dia mengatakan semangat itu ialah tidak berbohong, tidak arogan, dan tidak menyakiti masyarakat.

"Perubahan Polri tidak mungkin terjadi apabila pimpinan hanya meminta anggota berubah. Perubahan harus dimulai dari pimpinan dan dibuktikan di lapangan," ucap Suyudi.

Suyudi menyebutkan dia akan turun ke lapangan. Dia mengaku ingin untuk melihat masalah secara langsung.

"Saya akan turun ke lapangan bukan untuk mencari panggung, tetapi untuk melihat masalah, mendengarkan anggota dan masyarakat, mengambil keputusan, serta memastikan keputusan dilaksanakan," sebutnya.

Suyudi menyebutkan anggota Polri tidak boleh dipaksa mencapai target dengan cara melanggar hukum. Dia menegaskan tidak ada pembenaran terhadap pelanggaran.

"Anggota tidak boleh dipaksa mencapai target dengan cara yang melanggar hukum. Sebaliknya, tidak ada tekanan pekerjaan yang dapat menjadi pembenaran untuk memeras, menerima suap, merekayasa perkara, menjadi beking kegiatan ilegal, atau menggunakan kekerasan secara sewenang-wenang," ujarnya.

"Semangat yang ingin saya hidupkan sederhana. Tidak arogan, tidak berbohong, tidak menyalahgunakan kewenangan, dan tidak menyakiti masyarakat secara sewenang-wenang," sebutnya.

Suyudi menegaskan semangat mantan Kapolri Jenderal Hoegeng Iman Santoso harus jadi kompas moral. Dia mengatakan kejujuran dan kesederhanaan yang dicontohkan Hoegeng harus dipegang.

"Spirit Jenderal Polisi Hoegeng Iman Santoso menjadi kompas moral, kejujuran, kesederhanaan, keberanian menjadi integritas, menghindari konflik kepentingan, dan keteguhan menjalankan tugas," kata Suyudi.