NADIKABAR.COM — Iman merupakan fondasi utama dalam kehidupan seorang Muslim. Ibarat sebuah bangunan, rukun iman adalah tiang-tiang penopang yang menegakkan keyakinan seseorang kepada Allah SWT dan seluruh ajaran-Nya.

Tanpa pemahaman dan keyakinan yang benar terhadap rukun iman, seluruh amalan ibadah yang dilakukan akan kehilangan hakikat dasarnya. Bagi hamba yang taat beribadah, niscaya akan meningkatkan kadar keimanannya, begitu pula sebaliknya. Sebagaimana firman Allah SWT dalam surah Al-Anfal ayat 2:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَادَتْهُمْ اِيْمَانًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَۙ

"Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah mereka yang jika disebut nama Allah, gemetar hatinya dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhannya mereka bertawakal."

Mengutip Hudarrohman dalam bukunya Rukun Iman, rukun artinya dasar atau pokok yang harus dikerjakan, dan iman artinya yakin atau percaya. Jadi, rukun iman artinya dasar atau pokok kepercayaan.

Rukun iman pada diri manusia yang beriman memiliki tiga tahapan, yaitu diyakini dalam hati, diikrarkan dengan lisan, dan diamalkan dengan anggota badan.

Adapun enam rukun iman tersebut dijelaskan Rasulullah SAW dalam hadits berikut:

"Keimanan itu ialah engkau akan percaya (beriman) pada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab suci-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir (kiamat) dan engkau akan percaya kepada takdir baik dan buruk dari pada-Nya." (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits tersebut, enam rukun iman yang wajib diyakini setiap muslim adalah:

Dalam kitab terjemah Kasyifatus Saja Syarah Safinatun Naja karya Syaikh Nawawi Al-Bantani, tingkat keyakinan dan keimanan seorang hamba dibagi menjadi lima, yaitu:

Abdullah Hehamahua dalam buku Membedah Keberagaman Umat Islam Indonesia menjelaskan bahwa memahami rukun iman dan meningkatkan keimanan pada akhirnya mengantarkan seseorang untuk mengenal Allah (Ma'rifatullah).

Bukan hanya mengetahui keberadaan Allah SWT, tetapi juga menyadari keagungan-Nya serta meyakini Asmaul Husna dan sifat-sifat-Nya. Tiga cara memahami keberadaan Allah SWT ialah melalui eksistensi manusia dan alam semesta, ajaran para rasul, serta kaidah aqliah bahwa setiap ciptaan memiliki pencipta.

Sebagaimana meyakini Allah SWT, manusia juga perlu meyakini keberadaan makhluk dan kekuatan gaib, seperti malaikat dan iblis, yang tidak dapat dilihat melalui pancaindra.

Malaikat merupakan makhluk ciptaan Allah SWT yang tidak memiliki nafsu dan senantiasa beribadah kepada-Nya. Ma'rifat kepada malaikat mengajarkan manusia untuk taat dan ikhlas dalam beribadah kepada Allah SWT.

Mengimani kitab-kitab suci yang telah Allah SWT turunkan kepada para nabi dan rasul utusan-Nya sama dengan mempercayai segala ajaran dan juga panduan untuk umat manusia hidup di dunia.

Adapun empat kitab tersebut yaitu Zabur, Taurat, Injil, dan Al-Qur'an. Semuanya memuat pedoman hidup dan juga rujukan pengetahuan akan yang hak dan batil.

Sebagaimana mengimani kitab-kitab yang Allah SWT turunkan, seorang mukmin juga harus mengimani rasul-Nya yang diutus untuk menyampaikan ajaran kepada manusia. Allah SWT menjadikan nabi dan rasul sebagai teladan bagi setiap umatnya.

Allah SWT tidak mungkin menciptakan suatu kehidupan tanpa adanya kematian. Sebagaimana alam semesta dan segala isinya ini bermula, pasti akan ada masanya hancur dan binasa. Allah SWT menciptakan adanya akhirat sebagai kehidupan berikutnya yang abadi. Setiap amal yang diperbuat manusia selama di dunia akan dicatat untuk kemudian mendapatkan balasan, baik surga atau neraka.

Ma'rifat kepada hari akhir menjadi pengingat untuk manusia bahwa tidak selamanya kehidupan berjalan di dunia yang sifatnya fana.

Apa pun yang Allah SWT ciptakan pasti memiliki maksud dan tujuan, begitu pula dengan takdir. Ada takdir yang sifatnya tetap dan tidak dapat diubah, seperti kematian, jodoh, dan rezeki. Ada pula takdir yang dapat berubah melalui usaha manusia.

Manusia dapat berusaha dengan sungguh-sungguh, berdoa memohon yang terbaik, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT sebagai penentu segala sesuatu.