NADIKABAR.COM — Ratusan ribu orang memadati jalan-jalan di berbagai kota di Prancis pada Kamis (05/11) dalam gelombang baru protes terkait kenaikan biaya hidup.
Menteri Dalam Negeri Laurent Nunez mengatakan jumlah pengunjuk rasa terus meningkat sepanjang sore, dari 270.000 orang menjadi 600.000 orang menjelang malam.
Lima serikat pekerja yang mengorganisir aksi tersebut mewakili sektor publik dan swasta. Mereka mendesak pemerintah menangani memburuknya layanan publik serta tingginya harga berbagai kebutuhan.
Para pekerja sektor publik dan swasta bergabung dengan mahasiswa yang telah menggelar berbagai aksi protes selama sebulan terakhir.
Salah satu demonstrasi mahasiswa terbesar pada Oktober lalu berujung ricuh. Sejumlah oknum yang diduga perusuh merusak toko-toko, sementara api terlihat berkobar dari atap balai kota Limoges di Prancis tengah.
Presiden Prancis Emmanuel Macron menyalahkan kelompok-kelompok kiri ekstrem atas kekerasan tersebut dan berjanji menambah personel keamanan di lokasi demonstrasi.
Seperti yang terjadi pada Oktober, demonstrasi besar berlangsung di Paris, Lyon, Marseille, dan sejumlah kota lainnya. Sekitar 70.000 polisi dan personel keamanan dikerahkan di seluruh Prancis.
Aksi protes sebagian besar berjalan damai, meski terdapat laporan bentrokan antara polisi antihuru-hara dan demonstran di Lyon.
Laporan juga menyebut adanya insiden yang memanas di Paris. Menara Eiffel ditutup sepanjang hari, dan pada satu titik polisi menembakkan gas air mata ke arah demonstran di ibu kota Prancis tersebut.