NADIKABAR.COM — Menopause merupakan fase alami dalam kehidupan perempuan yang ditandai dengan berhentinya menstruasi secara permanen. Perubahan ini terjadi seiring menurunnya produksi hormon, terutama estrogen, yang berperan dalam mengatur siklus menstruasi serta berbagai fungsi tubuh.
Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sebagian besar perempuan mengalami menopause pada usia 45 hingga 55 tahun. Menopause secara alami ditetapkan ketika perempuan tidak mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut dan kondisi tersebut bukan disebabkan oleh penyakit atau faktor lain.
Perubahan menuju menopause biasanya berlangsung secara bertahap melalui fase perimenopause. Pada masa ini, siklus menstruasi mulai berubah dan berbagai keluhan dapat muncul, mulai dari sensasi panas mendadak, gangguan tidur hingga perubahan suasana hati. Gejala yang dialami setiap perempuan dapat berbeda, baik dari segi jenis, tingkat keparahan maupun durasinya.
Salah satu tanda awal memasuki masa menopause adalah perubahan pola menstruasi. Siklus yang sebelumnya teratur dapat menjadi lebih pendek atau lebih panjang. Volume darah yang keluar juga bisa lebih sedikit atau justru lebih banyak dibandingkan biasanya.
Perubahan tersebut berkaitan dengan aktivitas ovarium yang mulai menurun dan produksi hormon reproduksi yang berfluktuasi. Selama perimenopause, menstruasi dapat datang tidak teratur sebelum akhirnya berhenti sepenuhnya.
Meski perubahan siklus merupakan bagian yang umum dari transisi menopause, perdarahan yang sangat banyak, berlangsung berkepanjangan atau muncul setelah 12 bulan tidak menstruasi perlu diperiksakan ke tenaga kesehatan. Perdarahan setelah menopause harus dievaluasi karena dapat menjadi tanda kondisi medis yang memerlukan penanganan.
2. Tubuh lebih mudah merasa panas dan berkeringat
Perubahan hormon dapat memengaruhi kemampuan tubuh mengatur suhu. Salah satu gejala yang sering dialami saat memasuki menopause adalah hot flashes, yaitu sensasi panas yang muncul secara tiba-tiba, terutama pada wajah, leher dan dada.
Kondisi ini terkadang disertai kulit memerah, jantung berdebar dan keringat berlebih. Jika terjadi saat tidur, keluhan tersebut dikenal sebagai keringat malam atau night sweats.
Gejala ini dapat berlangsung selama beberapa menit dan muncul berulang kali. Intensitasnya berbeda pada setiap perempuan. Ada yang hanya mengalaminya sesekali, tetapi ada pula yang merasa terganggu hingga kesulitan menjalani aktivitas sehari-hari.
3. Tidur terganggu dan suasana hati berubah
Memasuki menopause, sebagian perempuan mengalami kesulitan tidur, mudah terbangun pada malam hari atau merasa kurang segar saat bangun pagi. Keringat malam dapat memperburuk gangguan tidur sehingga tubuh terasa lelah pada siang hari.
Perubahan hormon selama transisi menopause juga dapat disertai perubahan suasana hati, kecemasan, mudah tersinggung, serta kesulitan berkonsentrasi. Sebagian perempuan merasakan kondisi yang sering disebut brain fog, yakni perasaan sulit fokus atau mengingat sesuatu.
Meski keluhan tersebut dapat muncul selama menopause, tidak semua perubahan emosi atau gangguan konsentrasi disebabkan oleh hormon. Kualitas tidur, stres, kondisi kesehatan dan faktor lain juga dapat berperan. Jika keluhan berlangsung lama atau mengganggu aktivitas, pemeriksaan tenaga kesehatan dapat membantu menentukan penyebab dan penanganan yang sesuai.
4. Area kewanitaan menjadi lebih kering
Penurunan kadar estrogen dapat memengaruhi jaringan di sekitar vagina dan saluran kemih. Jaringan vagina bisa menjadi lebih tipis, kering dan kurang elastis sehingga menimbulkan rasa gatal, perih atau tidak nyaman.
Sebagian perempuan juga mengalami nyeri saat berhubungan seksual akibat berkurangnya kelembapan alami. Selain itu, perubahan pada saluran kemih dapat memicu keinginan buang air kecil lebih sering, rasa terbakar saat berkemih atau meningkatnya risiko infeksi saluran kemih.
Keluhan tersebut tidak selalu langsung muncul ketika menstruasi berhenti. Pada sebagian perempuan, masalah pada vagina dan saluran kemih justru dapat menetap atau semakin terasa setelah menopause. Tersedia pilihan penanganan, termasuk pelembap vagina dan terapi medis tertentu yang dapat disesuaikan dengan kondisi pasien.
5. Berat badan dan bentuk tubuh dapat berubah
Sebagian perempuan mengalami kenaikan berat badan selama masa transisi menopause. Lemak tubuh juga dapat lebih mudah menumpuk di sekitar perut dibandingkan sebelumnya.
Perubahan tersebut tidak hanya berkaitan dengan penurunan estrogen, tetapi juga proses penuaan, perubahan massa otot, pola makan, aktivitas fisik dan kualitas tidur. Karena itu, kenaikan berat badan selama menopause tidak dapat dikaitkan dengan satu faktor saja.
Menjaga pola makan seimbang, melakukan aktivitas fisik secara teratur dan mempertahankan massa otot dapat membantu mendukung kesehatan selama fase ini. Pemeriksaan kesehatan berkala juga berguna untuk memantau tekanan darah, kadar gula darah dan faktor risiko penyakit lainnya.
Estrogen berperan dalam menjaga keseimbangan proses pembentukan dan penguraian tulang. Ketika kadarnya menurun selama menopause, kepadatan tulang dapat berkurang sehingga risiko osteoporosis dan patah tulang meningkat.
Perubahan ini tidak selalu menimbulkan gejala yang langsung terasa. Seseorang bisa mengalami penurunan kepadatan tulang tanpa menyadarinya sampai terjadi patah tulang akibat benturan ringan atau jatuh.
Untuk menjaga kesehatan tulang, perempuan perlu mencukupi kebutuhan kalsium dan vitamin D, melakukan latihan menahan beban sesuai kemampuan, serta menghindari kebiasaan merokok. Bagi perempuan dengan faktor risiko osteoporosis, dokter dapat menyarankan pemeriksaan kepadatan tulang berdasarkan usia dan kondisi kesehatannya.
7. Risiko penyakit jantung perlu diperhatikan
Perubahan metabolisme dan komposisi tubuh selama menopause dapat memengaruhi kesehatan jantung. Penurunan estrogen berkaitan dengan perubahan sejumlah faktor risiko kardiovaskular, meskipun risiko seseorang juga dipengaruhi oleh usia, riwayat keluarga, tekanan darah, kolesterol, kebiasaan merokok dan aktivitas fisik.
Karena itu, menopause menjadi salah satu fase penting untuk lebih memperhatikan kesehatan jantung. Menjaga pola makan, aktif bergerak, tidur cukup dan tidak merokok merupakan langkah yang dapat membantu mengendalikan faktor risiko.
Perempuan juga sebaiknya memeriksakan tekanan darah, kolesterol dan gula darah sesuai kebutuhan. Terapi hormon menopause tidak ditujukan untuk mencegah penyakit jantung dan penggunaannya perlu mempertimbangkan manfaat, risiko, usia serta riwayat kesehatan masing-masing pasien.
Penanganan menopause dapat disesuaikan dengan kondisi
Menopause merupakan proses biologis alami, bukan penyakit. Namun, gejala yang muncul dapat memengaruhi kenyamanan, kesehatan dan kualitas hidup. Tidak semua perempuan membutuhkan pengobatan karena sebagian hanya mengalami keluhan ringan, sementara yang lain memerlukan bantuan medis.
Menurut pedoman National Institute for Health and Care Excellence (NICE) yang diperbarui pada 2024, terapi hormon dapat ditawarkan untuk membantu mengatasi gejala seperti sensasi panas mendadak dan keringat malam. Pilihan lain, termasuk terapi perilaku kognitif khusus menopause dan penanganan nonhormonal, dapat dipertimbangkan sesuai kebutuhan serta kondisi medis.
Penggunaan terapi hormon perlu dibicarakan dengan dokter untuk menilai manfaat dan risikonya, termasuk riwayat penyakit dan faktor risiko individu. Perempuan yang mengalami gejala berat, perubahan menstruasi yang mengkhawatirkan atau perdarahan setelah menopause sebaiknya mendapatkan pemeriksaan medis.
Memahami perubahan tubuh saat menopause dapat membantu perempuan mempersiapkan diri dan mencari pertolongan yang tepat ketika diperlukan. Dengan informasi yang akurat, pemantauan kesehatan dan penanganan sesuai kondisi, masa transisi ini dapat dijalani dengan lebih nyaman.